Letak geografis Indonesia mengandung potensi terjadinya bencana alam, baik itu gempa, badai, tsunami, tanah longsor, dan sebagainya. Potensi itu tak lepas dari letak Indonesia yang berada di pertemuan antara tiga lempengan bumi, yaitu Eurasia, Pasifik, dan Indo-Australia. Indonesia juga berada di daerah ring of fire (sabuk api), yakni daerah yang di dalamnya terdapat banyak gunung berapi.
Dengan kondisi semacam itu, masyarakat Indonesia semestinya punya kesadaran mengenai kebencanaan. Masyarakat mesti membangun cara pandang yang rasional dan spiritual, misalnya dengan tidak melakukan tindakan yang membuat Allah murka dan tidak melakukan pengrusakan atau eksploitasi terhadap alam.
Konsep Bencana
Bencana (disaster/al-karitsah) adalah kondisi yang membuat manusia mengalami kesusahan, kerugian, kematian, dan sebagainya. Di dalam al-Quran, kata bencana digunakan dalam beberapa istilah, seperti musibah, bala’, fitnah, ‘azab, dan sebagainya. Berikut pengertiannya:
Pertama, musibah. Di dalam al-Quran, kata musibah bersifat netral; tidak punya konotasi positif atau negatif. Apa saja yang menimpa manusia adalah musibah. Sementara dalam penggunaan bahasa Indonesia, kata ini lebih banyak dipakai untuk sesuatu yang negatif (menyakitkan atau menyengsarakan).
Dalam Q.S. al-Hadid [57]: 22-23 Allah swt. berfirman:
مَآ أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ فِى ٱلْأَرْضِ وَلَا فِىٓ أَنفُسِكُمْ إِلَّا فِى كِتَٰبٍ مِّن قَبْلِ أَن نَّبْرَأَهَآ ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى ٱللَّهِ يَسِيرٌ لِّكَيْلَا تَأْسَوْا۟ عَلَىٰ مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا۟ بِمَآ ءَاتَىٰكُمْ ۗ وَٱللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ
Artinya, “Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah [22] (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri [24]”.
Kedua, bala’. Di dalam al-Quran, kata bala’ lebih bermakna cobaan untuk memperteguh keimanan. Perantara peristiwanya beragam, bisa berbentuk sesuatu yang menyenangkan, bisa juga yang menyedihkan.
وَقَطَّعْنَٰهُمْ فِى ٱلْأَرْضِ أُمَمًا ۖ مِّنْهُمُ ٱلصَّٰلِحُونَ وَمِنْهُمْ دُونَ ذَٰلِكَ ۖ وَبَلَوْنَٰهُم بِٱلْحَسَنَٰتِ وَٱلسَّيِّـَٔاتِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
Artinya, “Dan Kami bagi-bagi mereka di dunia ini menjadi beberapa golongan; di antaranya ada orang-orang yang saleh dan di antaranya ada yang tidak demikian. Dan Kami coba mereka dengan (nikmat) yang baik-baik dan (bencana) yang buruk-buruk, agar mereka kembali (kepada kebenaran)” (Q.S. al-A’raf [7]: 168).
Ketiga, fitnah. Ada perbedaan mendasar antara kata fitnah yang dipakai di dalam al-Quran dan pengertiannya di dalam bahasa Indonesia. Di dalam bahasa Indonesia, fitnah diartikan sebagai perkataan bohong yang dimaksudkan untuk menjelekkan nama baik orang lain. Sementara di dalam al-Quran, fitnah bermakna ujian atau cobaan.
Kata ini bukan mengacu pada peristiwa alam, tetapi lebih ke peristiwa sosial, baik fisik maupun non-fisik. Konotasinya memang negatif; tentang kesedihan, kesengsaraan. Pun demikian halnya dengan dampak yang ditimbulkan; ketakutan, kesesatan, hingga kematian. Meski begitu, kata fitnah juga digunakan untuk menjelaskan sesuatu yang baik, seperti anak dan istri.
Allah swt. berfirman,
إِنَّمَآ أَمْوَٰلُكُمْ وَأَوْلَٰدُكُمْ فِتْنَةٌ ۚ وَٱللَّهُ عِندَهُۥٓ أَجْرٌ عَظِيمٌ
Artinya, “Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar” (Q.S. at-Taghabun [64]: 15).
Keempat, ‘azab. Di dalam al-Quran, kata ‘azab sering digunakan ketika menjelaskan berbagai peristiwa yang menimpa manusia. Peristiwa itu terjadi karena manusia melanggar ketetapan Allah swt. Hal ini sesuai dengan firman-Nya dalam Q.S. ad-Dukhan [44]: 15-16:
إِنَّا كَاشِفُوا۟ ٱلْعَذَابِ قَلِيلًا ۚ إِنَّكُمْ عَآئِدُونَ يَوْمَ نَبْطِشُ ٱلْبَطْشَةَ ٱلْكُبْرَىٰٓ إِنَّا مُنتَقِمُونَ
Artinya, “Sesungguhnya (kalau) Kami akan melenyapkan siksaan itu agak sedikit sesungguhnya kamu akan kembali (ingkar) [15] (Ingatlah) hari (ketika) Kami menghantam mereka dengan hantaman yang keras. Sesungguhnya Kami adalah Pemberi balasan [16]”.
Dijelaskan pula bahwa ketika manusia mengalami kesedihan dan rasa sakit, Allah akan menghapus kesalahan-kesalahan yang telah diperbuat. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadits.
عَنْ أَبِي سَعِيدٍ وَأَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّهُمَا سَمِعَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَا يُصِيبُ الْمُؤْمِنَ مِنْ وَصَبٍ وَلَا نَصَبٍ وَلَا سَقَمٍ وَلَا حَزَنٍ حَتَّى الْهَمِّ يُهَمُّهُ إِلَّا كُفِّرَ بِهِ مِنْ سَيِّئَاتِهِ
Artinya, “dari Abu Said dan Abu Hurairah (diriwayatkan) bahwa keduanya mendengar Rasulullah saw. bersabda: tidaklah menimpa seorang mukmin rasa sakit, kelelahan, penyakit, kesedihan, hingga kegundahan yang dirasakannya kecuali Allah akan menghapus kesalahannya” (HR. Muslim).
Oleh karena itulah, manusia mesti menyikapi bencana dengan sikap yang arif dan bijaksana. Selain media untuk mendekatkan diri kepada Allah, bencana juga mommomen untuk melakukan introspeksi atas segala perbuatan yang sudah dilakukan
https://suaraaisyiyah.id/konsep-bencana-dalam-al-quran/