Senin, 02 Februari 2026

Liburan Sekolah Arga


Hari pertama libur saya masih diam dirumah,Hari kedua sodara saya datang kerumah,Hari ketiga saya dan keluarga saya pergi ke Dusun Bambu



,disana saya banyak bermain wahana seperti,water coaster,go kart,rainbow slide,setelah pulang saya menukarkan tiket dengan tanaman pohon  cuaca di sana hujan dan dingin,pulang dari sana saya makan dulu di ciganea  Cimahi,makanan disana enak enak. Keesokannya saya Bersama sodara saya pergi ke Ciwidey untuk menginap di villa sonten resort

perjalanan ke Ciwidey membutuhkan waktu hampir empat jam karena macet,setelah sampai di sana saya langsung solat ashar,setelah solat saya langsung berendam di air hangat karna disana ada private pool,malam nya saya pergi Bersama sodara saya untuk mencari makan malam sampai di tempat makan saya lanngsung memesan kentang goreng dan matcha,sambil menunggu makanan jadi saya sambil nonton persib kebetulan di sana sedang nobar,setelah makan saya langsung pulang ke villa sampai di vila saya laangsung solay isya berjamaah,setelah solat saya langsung tidur,bangun tidur saya langsung solat shubuh ,habis solat subuh saya langsung jalan jalan di kebun teh ,sehabis jalan jalan saya langsung Kembali ke villa, di villa saya berendam lagi sambil menunggu sarapan setalah sarapan datang saya langsung mandi dan memakai baju lalu sarapan habis sarapan saya langsung siap siap untuk pulang,di jalan saya full tidur hingga sampai rumah

Kegiatan Liburanku

  Hafidzah Nurhanifa

Pagi hari aku bangun tidur dan membereskan tempat tidur. Setelah itu aku langsung mandi karna badanku terasa panas. Setelah mandi dan memakai pakaian, ku lanjut menjaga adikku sambil membantu Ibuku membawa makanan ke atas meja. Ketika Ibuku sudah selesai memasak, Ibuku menyuruhku untuk menyapu ruang tamu dan halaman dan kalau untuk kamar nanti saja kata Ibuku. Aku langsung mengambil sapu lalu menyapu lantai ruang tamu, setelah ruang tamu selesai, ku lanjut menyapu bagian halaman. Setelah halaman selesai di sapu, aku kembali masuk dan menyimpan sapu. 

Aku memutuskan untuk menjaga adikku karna Ibuku ingin menyapu bagian kamar. Aku bermain dengan adikku sambil menunggu Ibuku selesai menyapu. Setelah Ibuku selesai menyapu, aku memutuskan untuk makan karna sudah lapar. Selesai makan, ku lanjut bermain dengan adikku lagi. 

Siang hari jam 12.46, aku memutuskan untuk tidur. Aku sholat Dzuhur dulu, selesai sholat aku langsung tidur karna sudah sangat mengantuk. Zzz... 
Aku bangun tidur jam 14.56 di sambut oleh turunnya hujan, aku memutuskan untuk langsung mandi. Tapi sebelum aku mandi. Setelah itu, aku kembali ke kamar dan melihat adikku seperti tidak enak badan, ketika aku mencoba menyentuh dahi nya, dahi nya terasa panas. Aku bertanya pada Ibuku soal keadaan nya ternyata adikku sakit demam, aku membantu Ibuku mengompres adikku. 

Waktu Asar telah tiba, aku memutuskan untuk sholat Asar dahulu sebelum menjaga adikku lagi. Aku wudhu dan sholat Asar, setelah itu aku lanjut menjaga adikku. Ibuku menyuruh ku untuk menjaga adikku karna Ibuku akan mandi dan pergi ke acara undangan. Aku menjaga adikku yang sedang tertidur sambil menunggu Ibuku selesai mandi, aku mengirim pesan kepada Ayahku jika pulang nanti belikan koolfaver 2 dan juga paracetamol anak di apotek. Ibuku selesai mandi dan Ayahku juga sudah pulang, Ayahku memberikan obat untuk adikku kepada Ibuku, lalu mengompres lagi adikku. 

Aku dan Ayahku menjaga adikku ketika Ibuku sedang di acara undangan. Selagi menunggu Ibuku pulang aku memutuskan untuk mengobrol dengan Ayahku. Selesai mengobrol aku merasa bosan jadi aku memutuskan untuk menggambar saja dari pada terus terusan bosan. Ibuku pulang bersama Nenekku, Nenekku membawa oleh oleh entah dari siapa, isinya kerupuk dan sebuah tempat untuk menyimpan makanan. Disini aku berkumpul dengan keluarga, di tengah-tengah sedang asik mengobrol aku merasa lapar jadi aku memutuskan untuk makan. 

Maghrib telah tiba, dan aku baru selesai makan, aku memutuskan untuk langsung wudhu dan sholat Maghrib. Selesai sholat, aku memutuskan untuk lanjut menggambar karna masih ada beberapa yg belum di gambar. Setelah di gambar, ku lanjut mewarnai gambar tersebut. Saat sedang memilih warna, aku merasa bingung untuk memilih warna apa, jadi aku memutuskan untuk mengambil beberapa warna yang menurutku lumayan menyambung warnanya. Akhirnya gambaran ku selesai, aku memutuskan untuk membereskan alat warna, pensil, penggaris, penghapus, dan spidol, dan meja belajar yang telah aku pakai. Setelah itu aku habiskan waktu dengan kedua orang tuaku. 

Saat aku sedang mengobrol dengan kedua orang tuaku, terdengar azan Isya sudah berkumandang, aku memutuskan untuk wudhu dan sholat Isya. Setelah sholat aku memutuskan untuk mendengar kan musik, ketika jam 20.35, aku memutuskan untuk tidur karna sudah terlalu mengantuk. Aku simpan hp lalu tidur. Zzz..

Rabu, 10 Desember 2025

BENCANA DALAM AL QURAN

 Letak geografis Indonesia mengandung potensi terjadinya bencana alam, baik itu gempa, badai, tsunami, tanah longsor, dan sebagainya. Potensi itu tak lepas dari letak Indonesia yang berada di pertemuan antara tiga lempengan bumi, yaitu Eurasia, Pasifik, dan Indo-Australia. Indonesia juga berada di daerah ring of fire (sabuk api), yakni daerah yang di dalamnya terdapat banyak gunung berapi.

Dengan kondisi semacam itu, masyarakat Indonesia semestinya punya kesadaran mengenai kebencanaan. Masyarakat mesti membangun cara pandang yang rasional dan spiritual, misalnya dengan tidak melakukan tindakan yang membuat Allah murka dan tidak melakukan pengrusakan atau eksploitasi terhadap alam.

Konsep Bencana

Bencana (disaster/al-karitsah) adalah kondisi yang membuat manusia mengalami kesusahan, kerugian, kematian, dan sebagainya. Di dalam al-Quran, kata bencana digunakan dalam beberapa istilah, seperti musibah, bala’, fitnah, ‘azab, dan sebagainya. Berikut pengertiannya:

Pertama, musibah. Di dalam al-Quran, kata musibah bersifat netral; tidak punya konotasi positif atau negatif. Apa saja yang menimpa manusia adalah musibah. Sementara dalam penggunaan bahasa Indonesia, kata ini lebih banyak dipakai untuk sesuatu yang negatif (menyakitkan atau menyengsarakan).

Dalam Q.S. al-Hadid [57]: 22-23 Allah swt. berfirman:

مَآ أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ فِى ٱلْأَرْضِ وَلَا فِىٓ أَنفُسِكُمْ إِلَّا فِى كِتَٰبٍ مِّن قَبْلِ أَن نَّبْرَأَهَآ ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى ٱللَّهِ يَسِيرٌ لِّكَيْلَا تَأْسَوْا۟ عَلَىٰ مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا۟ بِمَآ ءَاتَىٰكُمْ ۗ وَٱللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ

Artinya, “Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah [22] (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri [24]”.

Kedua, bala’. Di dalam al-Quran, kata bala’ lebih bermakna cobaan untuk memperteguh keimanan. Perantara peristiwanya beragam, bisa berbentuk sesuatu yang menyenangkan, bisa juga yang menyedihkan.

وَقَطَّعْنَٰهُمْ فِى ٱلْأَرْضِ أُمَمًا ۖ مِّنْهُمُ ٱلصَّٰلِحُونَ وَمِنْهُمْ دُونَ ذَٰلِكَ ۖ وَبَلَوْنَٰهُم بِٱلْحَسَنَٰتِ وَٱلسَّيِّـَٔاتِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

Artinya, “Dan Kami bagi-bagi mereka di dunia ini menjadi beberapa golongan; di antaranya ada orang-orang yang saleh dan di antaranya ada yang tidak demikian. Dan Kami coba mereka dengan (nikmat) yang baik-baik dan (bencana) yang buruk-buruk, agar mereka kembali (kepada kebenaran)” (Q.S. al-A’raf [7]: 168).

Ketiga, fitnah. Ada perbedaan mendasar antara kata fitnah yang dipakai di dalam al-Quran dan pengertiannya di dalam bahasa Indonesia. Di dalam bahasa Indonesia, fitnah diartikan sebagai perkataan bohong yang dimaksudkan untuk menjelekkan nama baik orang lain. Sementara di dalam al-Quran, fitnah bermakna ujian atau cobaan.

Kata ini bukan mengacu pada peristiwa alam, tetapi lebih ke peristiwa sosial, baik fisik maupun non-fisik. Konotasinya memang negatif; tentang kesedihan, kesengsaraan. Pun demikian halnya dengan dampak yang ditimbulkan; ketakutan, kesesatan, hingga kematian. Meski begitu, kata fitnah juga digunakan untuk menjelaskan sesuatu yang baik, seperti anak dan istri.

Allah swt. berfirman,

إِنَّمَآ أَمْوَٰلُكُمْ وَأَوْلَٰدُكُمْ فِتْنَةٌ ۚ وَٱللَّهُ عِندَهُۥٓ أَجْرٌ عَظِيمٌ

Artinya, “Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar” (Q.S. at-Taghabun [64]: 15).

Keempat, ‘azab. Di dalam al-Quran, kata ‘azab sering digunakan ketika menjelaskan berbagai peristiwa yang menimpa manusia. Peristiwa itu terjadi karena manusia melanggar ketetapan Allah swt. Hal ini sesuai dengan firman-Nya dalam Q.S. ad-Dukhan [44]: 15-16:

إِنَّا كَاشِفُوا۟ ٱلْعَذَابِ قَلِيلًا ۚ إِنَّكُمْ عَآئِدُونَ يَوْمَ نَبْطِشُ ٱلْبَطْشَةَ ٱلْكُبْرَىٰٓ إِنَّا مُنتَقِمُونَ

Artinya, “Sesungguhnya (kalau) Kami akan melenyapkan siksaan itu agak sedikit sesungguhnya kamu akan kembali (ingkar) [15] (Ingatlah) hari (ketika) Kami menghantam mereka dengan hantaman yang keras. Sesungguhnya Kami adalah Pemberi balasan [16]”.

Dijelaskan pula bahwa ketika manusia mengalami kesedihan dan rasa sakit, Allah akan menghapus kesalahan-kesalahan yang telah diperbuat. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadits.

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ وَأَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّهُمَا سَمِعَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَا يُصِيبُ الْمُؤْمِنَ مِنْ وَصَبٍ وَلَا نَصَبٍ وَلَا سَقَمٍ وَلَا حَزَنٍ حَتَّى الْهَمِّ يُهَمُّهُ إِلَّا كُفِّرَ بِهِ مِنْ سَيِّئَاتِهِ

Artinya, “dari Abu Said dan Abu Hurairah (diriwayatkan) bahwa keduanya mendengar Rasulullah saw. bersabda: tidaklah menimpa seorang mukmin rasa sakit, kelelahan, penyakit, kesedihan, hingga kegundahan yang dirasakannya kecuali Allah akan menghapus kesalahannya” (HR. Muslim).

Oleh karena itulah, manusia mesti menyikapi bencana dengan sikap yang arif dan bijaksana. Selain media untuk mendekatkan diri kepada Allah, bencana juga mommomen untuk melakukan introspeksi atas segala perbuatan yang sudah dilakukan

https://suaraaisyiyah.id/konsep-bencana-dalam-al-quran/

Kamis, 20 November 2025

MENUNGGU DAN YANG DITUNGGU

 Ada ulama yang mengatakan hidup itu hakikatnya menunggu. apa yang ditunggu?bisa apa saja baik itu orang atau waktu. ataupun Tuhan. kita sedang menunggu jadwal pulang kepada Allah berupa ajal.apabila telah datang ajal maka tidak dapat dimajukan atau dimundurkan.

"وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ ۖ فَإِذَا جَآءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً ۖ وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ"

Terjemahan: "Dan setiap umat mempunyai batas waktu; maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya. Surat Al-A'raf ayat 34.

Itu salah satu menunggu waktu berakhir kita. ataupun waktu sekarang kita menunggu tulisan ini atau ceramah ini selesai. setelah itu menunggu waktu solat datang. magrib isya subuh zuhur kemudian magrib lagi ya itula perputaran hidup seorang muslim. bagi yang tidak beriman juga menuggu waktu pulang kerja. kita ditunggu keluarga ketika pulang kerja.

Agar menuggu itu bernilai ketika datang pagi jangan menunggu sore artinya jangan menunggu itu dengan diam tapi isi dengan ibadah dan berikhtiar. Perkataan Ibnu ‘Umar Radhiyallahu anhma.

إِذَا أَمْسَيْتَ فَلَا تَنْتَظِرِ الصَّبَاحَ، وَإِذَا أَصْبَحْتَ فَلَا تَنْتَظِرِ الْمَسَاءَ

Jika engkau berada di sore hari, janganlah menunggu pagi hari. Dan jika engkau berada di pagi hari, janganlah menunggu sore hari

وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ لِمَرَضِكَ، وَمِنْ حَيَاتِكَ لِمَوْتِكَ

Gunakan waktu sehatmu sebelum sakitmu dan hidupmu sebelum matimu Maksudnya, kerjakan amal-amal shalih dalam kehidupan ini sebelum engkau terhalangi oleh sakit dan kerjakan amal-amal shalih dalam kehidupan ini sebelum engkau dipisahkan oleh kematian.

Rasul manusia yang kita tunggu dan kita yang ditunggu Rosul'

إِنِّي فَرَطُكُمْ عَلَى الْحَوْضِ، مَنْ مَرَّ عَلَيَّ شَرِبَ وَمَنْ شَرِبَ لَمْ يَظْمَأْ أَبَدًا، وَلَيَرِدَنَّ عَلَيَّ أَقْوَامٌ أَعْرِفُهُمْ وَيَعْرِفُونِي ثُمَّ يُحَالُ بَيْنِي وَبَيْنَهُمْ، فَأَقُولُ: إِنَّهُمْ مِنِّي. فَيُقَالُ: إِنَّكَ لَا تَدْرِي مَا أَحْدَثُوا بَعْدَكَ. فَأَقُولُ: سُحْقًا، سُحْقًا لِمَنْ غَيَّرَ بَعْدِي

“Aku menunggu kalian di telagaku. Barang siapa yang melewatiku, dia akan minum di telaga itu, dan barang siapa yang berhasil minum darinya, niscaya dia tidak akan merasa haus selamanya. Sungguh, beberapa kaum akan berusaha melewatiku. Aku mengenal mereka dan mereka mengenaliku. Kemudian dipisahkan antara aku dengan mereka.” Aku katakan, ‘Sesungguhnya mereka dari golonganku!’, maka dikatakan kepadaku, ‘Sesungguhnya kamu tidak mengetahui apa yang mereka ada-adakan sepeninggalmu!’ Aku katakan, ‘Sangat jauh (telagaku) bagi orang yang mengubah (agamaku) sepeninggalku’.” (HR. Bukhori dan Muslim)

 

Kamis, 15 Agustus 2024

Refleksi cara mensyukuri Kemerdekaan ke 79

Peran umat Islam dalam kemerdekaaan


Sudah 79 Tahun bangsa ini Merdeka dari penjajahan tentunya tidak bosan pula kita terus bersyukur atas nikmat kemerdekaan itu. Dalam pembukaan Undang Undang jelas bahwa kemerdekaan ini adalah berkat Rahmat Allah yang maha kuasa. Segala bentuk kemenangan dan kemerdekaan tidak lepas dari pertolongan dari Allah serta perjuangan dari Mujahid kita.

Sekadar sejumlah contoh. Pada abad ke-17, tampil ulama besar, Syekh Yusuf al-Maqassari (1037-1111 H/1626-1699M) dalam perjuangan mengusir penjajah. Syekh Yusuf bukan hanya mengajar dan menulis kitab-kitab keagamaan, tetapi juga memimpin pasukan melawan penjajah Belanda. Ia bahkan pergi ke Jawa untuk melanjutkan perjuangannya. Tahun 1683, setelah tertangkapnya Sultan Ageng Tirtayasa, Syekh Yusuf memimpin kurang lebih 4000 pasukan di hampir seluruh wilayah Jawa Barat.

Pada abad ke-18, tampil pula ulama besar dari Palembang, bernama Syekh Abd al-Shamad al-Falimbani (1704-1789). Ia dikenal sebagai ulama paling terkemuka dari wilayah Palembang. Meskipun menetap Mekkah, Syekh Abd al-Shamad memiliki kepedulian yang kuat terhadap kondisi Nusantara dan mendorong kaum Muslim untuk melaksanakan jihad melawan penjajah. Sebuah kitab berbahasa Arab tentang keutamaan jihad fi-sabilillah ditulisnya dengan judul, Nashihah al-Muslim wa-Tadzkirah al-mu’minin fi-Fadhail al-Jihad fi-Sabilillah wa-Karamah al-Mujahidin fi-Sabilillah. Kitab ini sangat berpengaruh dalam menggelorakan semangat perlawanan melawan penjajah. 

Abad ke-19, tampil pemimpin besar dalam melawan penjajah, yaitu Pangeran Diponegoro, yang dibantu Kyai Mojo dan banyak ulama lain. Perang Diponegoro merupakan Perang terbesar di Pulau Jawa dalam melawan penjajah. Perang terlama yang lain dan paling sulit dihadapi Belanda adalah saat para ulama dan pemimpin Aceh melancarkan serangan balik menolak kehadiran Belanda di Bumi Rencong itu. Di Sumatera Barat terjadi Perang Paderi. Di Banten (1888) ada perlawanan para santri dan kiai yang sekalipun tidak jadi meletus namun membuat pemerintah Hindia Belanda tidak bisa tidur nyeyak. Di Banjar, Pangeran Antasari bergerak didukung para ulama dan santri. Perlawanan-perlawanan abad ke-19 itu selalu digerakkan oleh para ulama, kiai, dan santri. Amat jarang di luar komunitas ini yang melakukan perlawanan nyata kepada penguasa kolonial. Perlawanan-perlawanan itu lahir ketika mereka ditindas oleh penguasa asing, kafir, dan zalim.

Selama satu abad perlawanan meletus, giliran kemudian generasi Muslim terdidik baru lahir pada sekitar awal abad ke-20. Perlawanan fisik kini bermetamorfosis menjadi perlawanan yang lebih mengandalkan kekuatan ilmu. Sejarah menyaksikan lahirnya Sarekat Islam (1911) yang memiliki gagasan-gagasan revolusioner untuk melepaskan rakyat Indonesia dari kungkungan Belanda. Organisasi yang didirikan HOS Cokroaminoto ini menjadi katalisator politik kepentingan-kepentingan rakyat Indonesia yang ingin segara bebas dari kesengsaraan akibat kolonialisme itu. Disusul kemudian dengan gerakan-gerakan lain yang turut melengkapi hadirnya SI. Di Yogya lahir Muhammadiyah (1912), di Bandung lahir Persatuan Islam (1923), di Surabaya lahir Nahdhatul Ulama (2006), serta di Sumatra lahir Persatuan Tarbiyah Islamiyah (Perti) dan Persaudaraan Muslimin Indonesia (Permi). Di beberapa tempat yang lain pun lahir gerakan-gerakan serupa. Walaupun aksentuasi yang dibawa berbeda-beda, namun semuanya memiliki cita-cita yang sama: Bebaskan Indonesia dari Belanda!

Tidak dipungkiri bahwa ada gerakan-gerakan lain yang berhaluan sekuler, seperti PKI, PNI, Indische Partij, dan sebagainya yang ikut juga dalam pergerakan membebaskan Indonesia. Namun, hal yang tidak bisa dielakkan mereka sebagian besarnya adalah juga umat Islam. Hanya saja, pilihan perjuangannya bukan untuk menegakkan kedaulatan Islam, melainkan hanya sekadar mengabdi kepada kepentingan pragmatis, atau agak lebih tinggi sedikit demi kepentingan kemanusiaan. Pada masanya, kedua haluan gerakan ini—Islam dan Sekuler—saling bersaing untuk sama-sama menyingkirkan penjajah dan juga saling bersaing untuk mengendalikan negara baru nantinya.

Singkat cerita, Belanda tidak bisa mempertahankan wilayah Indonesia lebih lama setelah kekalahan pertama Sekutu pada Perang Pasifik dan kepulauan ini harus diserahkan kepada Jepang. Jepang selalu berkampanye akan memberikan kemerdekaan pada Indonesia, walaupun kelihatannya tidak sungguh-sungguh. Jepang hanya mengulur waktu untuk mendapatkan bala bantuan tentara dan logistik untuk kepentingan Perang Pasifik yang tengah dihadapinya. Akhirnya, Jepang harus menyerah kepada Sukutu pimpinan Amerika pada tahun 1945. Situasi inilah yang dimanfaatkan oleh tokoh-tokoh pergerakan Indonesia untuk memerdekakan negerinya. Kalangan Islam maupun sekuler untuk sementara bersatu memperjuangkan bebasnya negara baru dari penjajah kafir dengan diawali Proklamasi Kemerdekaan RI tanggal 17 Agustus 1945 M / 9 Ramadan 1364 H, suatu proklamasi berbekal kenekatan dan keberanian, namun akhirnya bebuah hasil yang manis merdekanya wilayah kepulauan ini dari cengkeraman penguasa kafir


Bersyukur atas kemerdekaan

Hakikat syukur adalah menampakkan nikmat dengan menggunakannya pada tempat dan sesuai dengan kehendak pemberinya. Sedangkan kufur adalah menyembunyikan dan melupakan nikmat. Allah SWT berfirman, ''Dan (ingatlah) tatkala Tuhanmu memaklumkan, 'Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku sangat pedih'.'' (QS 14: 7).

Pada dasarnya, semua bentuk syukur ditujukan kepada Allah. Namun, bukan berarti kita tidak boleh bersyukur kepada mereka yang menjadi perantara nikmat Allah. Ini bisa dipahami dari perintah Alah untuk bersyukur kepada orang tua yang telah berjasa menjadi perantara kehadiran kita di dunia. Firman Allah SWT, ''Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua ibu-bapakmu, hanya kepada-Kulah kamu kembali.'' (QS 31: 14).

Perintah bersyukur kepada orang tua sebagai isyarat bersyukur kepada mereka yang berjasa dan menjadi perantara nikmat Alloh. Orang yang tidak mampu bersyukur kepada sesama sebagai tanda ia tidak mampu pula bersyukur kepada Alloh swt . Nabi bersabda, ''Siapa yang tidak mensyukuri manusia, maka ia tidak mensyukuri Alloh.'' (HR Tirmidzi).

Manfaat syukur akan menguntungkan pelakunya. Allah tidak akan memperoleh keuntungan dengan syukur hamba-Nya dan tidak akan rugi atau berkurang keagungan-Nya apabila hamba-Nya kufur. Allah berfirman, ''Dan siapa yang bersyukur, maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan siapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Mahakaya lagi Mahamulia.'' (QS 27: 40).

Dalam mukaddimah kitab Al Waabilush Shayyib, Imam Ibnul Qayyim berkata bahwa Syukur memiliki tiga rukun, yang bila ketiganya diamalkan, berarti seorang hamba dianggap telah mewujudkan hakikat syukur tersebut, meski kuantitasnya masih jauh dari ‘cukup’.

Ketiga rukun tersebut adalah:Bersyukur dengan Hati, Mengakui dalam hati bahwa nikmat tersebut dari Allah. Bersyukur dengan Lisan. Mengucapkannya dengan lisan.Bersyukur dengan Perbuatan, Menggunakan kenikmatan tersebut untuk menggapai ridha Allah, karena Dia-lah yang memberikannya.

Jadi, cara mensyukuri Kemerdekaan RI adalah dengan meneruskan hasil perjuangan para ulama dan tokoh Islam dalam mengamalkan syariat Islam bagi pemeluknya sesuai dengan Piagam Djakarta yang berlandaskan ketauhidan.  Karena dengan itulah kita akan mendapatkan Ridho dan Rahmat dari Allah SWT. Merdeka! 


 


 


 


 


 


 

Senin, 28 Maret 2022

SENI DAN BUDAYA DI LINGKUNGAN KITA

Nama : Dzakira Rahmani Aisy

Sekolah : SD IT AL-AMIN

 KEINDAH  WISATA PAKU HAJI


Badung Barat tidak kalah indah dengan keindahan alam nya, di daerahku Kec. Ngamprah ada tempat wisata Paku Haji, yang terletak di jalan Haji Ghofur, kurang lebih letaknya 4,5 KM dari rumah ku. Harga tiket masuk nya kurang lebih Rp. 20.000, untuk tiket parkir Rp. 2.000 sampai 5.000. Tidak perlu khawatir kepanasan karena di sana udara nya sejuk dan banyak pohoh rindang.

    Di sini kita bisa menaiki  wisata kuda ala koboi, dengan harga tiket Rp. 10.000, dengan harga yang

murah  kita sudah bisa berpetualang dengan kuda dan menikmati pemandangan dengan udara yang sejuk. Nah disini ada dua jenis kuda yang di gunakan, yaitu kuda mancanegara atau impor dan kuda lokal dari Indonesia sendiri. Kuda impor digunakan untuk pengunjung yang sudah berpengalaman sedang kan kuda dari Indonesia untuk pemula.

    Disini juga di fasilitasi berkeliling mengunakan ATV, keamanan disini sudah sesuai dengan anak-anak dan juga dewasa. Kemudian ada kolam renang, flaying fox, dengan harga tiket yang murah. Kita juga dapat berkelilng menggunakan kereta mini. Terdapat kebun bintang mini di sana terdapat banyak hewan hewan, mulai dari yang langka, hewan impor dan juga hewan-hewan di Indonesia. Jika kita sudah lelah kita bisa berkunjung ke wisata kuliner nasi liweut nya yang sangat enak dengan resep turun menurun dan ditambah lauk pauk yang sangat banyak, menikmati hidangan lebih nikmat ketika sambil menikmati keindahan alam. Sangat menarik bukan tempat wisata di daerahku yaitu Kec. Ngamprah, Selamat berkunjung!



Senin, 20 Agustus 2012

PENCERAHAN PASCA RAMADHAN*

OLeh : Ihsan Kamaludin Ramadhan sebagai bulan penuh perjuangan dan pengorbanan untuk mengendalikan nafsu syahwat merupakan bentuk tarbiyyah dari Allah. Bentuk pertama tarbiyyah tersebut bisa berupa tarbiyyah jasadinyah yang mengendalikan aspek fisik untuk membatasi dan mengatur pola makan, minun dan berhubungan suami istri. Bentuk kedua tarbiyyah ramdhan adalah tarbiyyah ruhani yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan dengan intensitas ibadah yang full time dari pagi sampai malam. Bentuk tarbiyyah yang ke tiga berupa pendidikan kepekaan sosial pada sesama manusia yang sama-sama merasakan lapar dan dahaga. Implementasi tarbiyah ketiga ini dipungkas dengan kewajiban membayar zakat fitrah sebagai bukti pensucian jiwa dan raga dari sikap yang ternoda. Ramadhan pasti berlalu dan berlanjut pada bulan syawal. Itulah waktu terus bergulir mengikis jatah usia yang ada dalam manusia maupun alam. Lafalz takbir, tahlil dan tahmid menggema menyambut bulan syawal yang penuh dengan kesucian. Takbir merupakan bukti kekecilan manusia yang tak pantas sombong dengan apa yang dimiliki. Tahlil merupakan implikasi ketauhidan setelah mengakui kelemahan manusia di hadapan Allah Yang Maha Besar. Tahmid adalah curahan rasa syukur atas nikmatnya kesehatan lahir maupun bathin dalam setiap saat,apalagi di hari raya yang penuh kebahagiaan. Syawal, dipenuhi aktifitas silaturahim dengan istilah kita “halal-bi-halal”. Ucapan-ucapan selamat tersebar dalam dunia nyata maupun maya berupa teknologi informasi dan komunikasi. Mobilitas manusia saat awal bulan tersebut sangatlah tinggi. Kemacetan di berbagai tempat dengan maksud menggunjungi kerabat dan sanak saudara. Ataupun rihlah ke berbagai tempat wisata untuk mengokohkan tali persaudaraan dan refreshing dalam kehangatan keluarga. Sekedar saling berbagi dan mengingatkan, Ramadhan dengan aktifitas yang begitu hebat moga berbekas lama menghadapi sebelas bulan lamanya. Mungkin inilah kenapa Idul fitri dinamakan orang sunda Lebaran. Artinya lebar (sayang) kalau shaum setelah ramadhan ditinggalkan padahal masih ada banyak shaum sunnah setelah ramadhan. Lebar, kalau tadarus selama ramadhan yang mungkin ada yang khatam ditinggalkan selama sebelas bulan. Lebar, kalau shalat tarawih waktu malam ramadhan ditinggalkan karena rasul tak pernah meninggalkanya. Dan banyak pula lebar-lebar yang lainya, sayang jika ditinggalkan karena ramdhan hanya mungkin napak tilasnya diatas air. Namun, yang dikhawartirkan adalah bagaimana jika ramadhan kita tidak mendapatkan ampunan dari Allah. Sebagaimana Nabi pernah menaiki tangga mimbar dan pada saat berada di atas tangga pertama, beliau berkata, “Amin”. Kemudian naik ke tangga kedua dan berkata, “Amin”. Lalu naik ke tangga ketiga dan berkata, “Amin”. Ketika Rasulullah SAW turun mimbar dan memiliki waktu cukup luang dikatakan kepada beliau, “Wahai Rasul, kami mendengar sebuah perkataan pada hari ini yang belum kami dengar sebelumnya.” Rasulullah SAW bertanya, “Kalian semua mendengarkannya?” Para sahabat berkata, “Iya”. Rasulullah SAW lalu bersabda, "Sungguh, Jibril AS menyampaikan kepadaku pada saat aku berada di tangga mimbar dengan perkataannya, ‘Rugilah orang-orang yang mendapati kedua atau salah satu orang tuanya berumur tua, namun keduanya tidak menjadikannya masuk surga’. Aku (Rasulullah SAW) menjawab, ‘Amin’. Rugilah orang-orang yang jika namamu (Muhammad SAW) disebut, namun dia tidak mengucap shalawat kepadamu. Aku menjawab, ‘Amin’. Rugilah orang-orang yang mendapati Ramadhan namun tidak mendapat ampunan Allah. Aku menjawab, ‘Amin’." (HR. Tabrani). Oleh karena itu sahabat pembaca yang baik, jadikanlah ramadhan itu berbekas seperti mengukir diatas batu pada hati, lisan, dan tindakan kita. Sehingga kita menjadi manusia fitrah yang sempurna selamanya. Manusia yang dipenuhi rasa kebahagiaaan dari ketakwaan yang diperoleh. Mempertahankan dan meningkatkan pengendalian diri agar terus suci dan mensucikan diri apabila kembali terkotori. Sungguh bahagia orang yang mensucikan dirinya. *Refleksi 3 syawal 1433 H