Kamis, 24 September 2026

MEMAKMURKAN USIA KITA


Khutbah I

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ


Fase Biologis Usia manusia

۞ اَللّٰهُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ ضَعْفٍ ثُمَّ جَعَلَ مِنْۢ بَعْدِ ضَعْفٍ قُوَّةً ثُمَّ جَعَلَ مِنْۢ بَعْدِ قُوَّةٍ ضَعْفًا وَّشَيْبَةًۗ يَخْلُقُ مَا يَشَاۤءُۚ وَهُوَ الْعَلِيْمُ الْقَدِيْرُ

Artinya: “Allah adalah Zat yang menciptakanmu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan(-mu) kuat setelah keadaan lemah. Lalu, Dia menjadikan(-mu) lemah (kembali) setelah keadaan kuat dan beruban. Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Dia Maha Mengetahui lagi Mahakuasa,” (Qs: Ar-Rum 54).

Para fuqaha berijtihad bahwa usia manusia terbagi menjadi 5 fase. Yaitu fase shabiy atau bayi, kemudian fase athfal atau anak-anak, kemudian fase syabab atau pemuda, kemudian fase kahulah atau usia dewasa, yaitu 40 tahun, dan terakhir fase syuyukh atau tua, yaitu di atas 60 tahun.

Ketika usia 40 Tahun mari kita renungkan ayat berikut ini

حَتّٰٓى اِذَا بَلَغَ اَشُدَّهُ وَبَلَغَ اَرْبَعِيْنَ سَنَةً ۙ قَالَ رَبِّ اَوْزِعْنِيْٓ اَنْ اَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِيْٓ اَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلٰى وَالِدَيَّ وَاَنْ اَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضٰهُ وَاَصْلِحْ لِيْ فِيْ ذُرِّيَّتِيْ ۚ اِنِّيْ تُبْتُ اِلَيْكَ وَاِنِّيْ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ

“Sehingga, apabila telah dewasa dan umurnya mencapai empat puluh tahun, dia (anak itu) berkata, ‘Wahai Tuhanku, berilah petunjuk agar aku dapat mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku, dapat beramal saleh yang Engkau ridhai, dan berikanlah kesalehan kepadaku hingga kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada-Mu dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang muslim.” surat Al-Ahqaf ayat 15:

Momentum usia 40 tahun adalah titik start bagi manusia untuk kembali ke jalan Allah serta meningkatkan keseriusan memikirkan akhirat, memperbanyak ibadah, dan memperbaiki akhlak. Muaranya, akan terbangun koneksi hablun minallah yang baik. Sebab tidak ada cara lain untuk membangun jaringan akhirat kecuali dengan peningkatan keimanan dan ketakwaan. Hal ini sebagaimana pesan Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 197:

وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى

“… Dan berbekallah, sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.”

UMUR YANG BERKAH

Qur’an membedakan secara tegas antara konsep usia dan umur yang sering kali disamakan dalam penggunaan sehari-hari. “Usia adalah hitungan waktu sejak seseorang dilahirkan hingga ajal nya tiba. Sementara umur berkaitan dengan bagaimana kehidupan itu dijalani, dimaknai, dan dimanfaatkan

gambaran dari umur kita sebagai umatnya Nabi Muhammad SAW yang bisa dijadikan patokan kita dalam menjalani hidup ini yaitu antara umur 60 sampai 70 tahun sebagaimana sabdanya:   أَعْمَارُ أمَّتِـي مَا بَيْنَ السِّتِّيْنَ إِلَى السَّبْعِيْنَ وَأَقَلُّهُمْ مَنْ يَجُوزُ ذلِكَ “Umur-umur umatku antara 60 hingga 70, dan sedikit dari mereka yang melebihi itu.” (HR At-Tirmidzi) 

Setiap manusia berharap untuk mendapatkan umur yang panjang dari Allah. Namun begitu tetap saja bahwa Allah memiliki hak untuk mengatur umur hamba-Nya. Untuk itu manusia perlu melakukan usaha atau ikhtiar agar mendapatkan umur yang panjang dengan banyak berdoa dan hidup sehat. Orang yang banyak amal baik dan panjang umurnya adalah orang yang sangat baik dalam pandangan Rasul sebagaimana sabdanya:

   يَا رَسُولَ اللهِ مَنْ خَيْرُ النَّاسِ قَالَ : مَنْ طَالَ عُمرُهُ وَحَسُنَ عَمَلُهُ Artinya: ’’Wahai Rasulullah, siapakah sebaik-baik manusia? Beliau menjawab: Orang yang panjang umurnya dan baik amalannya. (HR Tirmidzi)    

Mudah-mudahan kita termasuk golongan yang selalu mendapatkan usia panjang disertai amal yang banyak sebagai bekal perjalanan menuju Allah.

بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ وَنَفْعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ


Khutbah II

Sebelum kita menyesali usia kita

Sebagaimana seseorang belajar di sekolah atau di kampus, ataupun bekerja menjadi karyawan, seseorang yang hidup di dunia akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat. Anak sekolah akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dia kerjakan dan pelajari selama sekolah lewat ujian sekolah atau ujian kampus. Orang yang bekerja sebagai karyawan akan dimintai pertanggungjawaban atas pekerjaannya lewat laporan rutin. Para pejabat juga dimintai pertanggungjawaban selama ia menjabat. Itu dalam masalah dunia yang sifatnya sementara. Bagaimana dengan masalah akhirat yang merupakan kehidupan abadi? Tentu pertanggungjawabannya semakin besar dan teliti.

Di antara pertanggungjawaban tahap awal dalam kehidupan akhirat yang akan dilalui manusia adalah apa yang telah diceritakan oleh Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam,

لا تزولُ قدَما عبدٍ يومَ القيامةِ حتَّى يسألَ عن عمرِهِ فيما أفناهُ ، وعن عِلمِهِ فيمَ فعلَ ، وعن مالِهِ من أينَ اكتسبَهُ وفيمَ أنفقَهُ ، وعن جسمِهِ فيمَ أبلاهُ

“Tidaklah kedua kaki seorang hamba beranjak pada hari kiamat hingga ia ditanya mengenai: untuk apa umurnya ia habiskan, apakah ilmunya ia amalkan, dari mana hartanya ia peroleh dan di mana ia belanjakan, serta untuk apa tubuhnya ia usangkan.” (HR. Tirmidzi no. 2417

Terakhir, menghadapi Kemarau yang kita alami hendaknya tidak berhenti menjadi keluhan tentang panasnya udara atau lamanya hujan tidak turun. Keadaan ini hendaknya menjadi kesempatan untuk memperbaiki hubungan kita dengan Allah sekaligus memperbaiki cara kita memperlakukan alam.

Mari memulai dari sesuatu yang sederhana. Gunakan air sesuai kebutuhan. Jangan membiarkan keran mengalir tanpa manfaat. Segera perbaiki kebocoran. Jaga kebersihan sungai dan sumber air. Rawat pohon serta kawasan yang menjadi tempat air meresap ke dalam tanah. Dan ketika ada saudara kita yang mengalami kekurangan air bersih, hadirkan kepedulian dan berbagi kemampuan yang kita miliki. kita mohon pada Allah agar disegerakan turun hujan yang membawa berkah dan manfaat yang besar untuk kita semua

لَّهُمَّ اسْقِنَا غَيْثًا مُغِيثًا مَرِيئًا طَبَقًا مَرِيعًا غَدَقًا عَاجِلًا غَيْرَ رَائِثٍ

اللَّهُمَّ اسْقِنَا غَيْثًا مُغِيثًا مَرِيئًا مَرِيعًا نَافِعًا غَيْرَ ضَارٍّ، عَاجِلًا غَيْرَ آجِلٍ

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَات

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ، وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَِ

Kamis, 03 September 2026

DOA PERLINDUNGAN DALAM RIYADHUSHALIHIN


 زياد بن عِلاَقَةَ عن عمه، وَهُوَ قُطْبَةُ بنُ مالِكٍ - رضي الله عنه - قَالَ: كَانَ النبيّ - صلى الله عليه وسلم - يقول: «اللَّهُمَّ إنِّي أعُوذُ بِكَ مِنْ مُنْكَرَاتِ الأخْلاَقِ، وَالأعْمَالِ، والأهْواءِ». رواه الترمذي، وقال: «حديث حسن».

Redaksi lain:

اللَّهُمَّ جَنَّبَنِي مُنْكَرَاتِ الْأَخْلَاقِ، وَالْأَعْمَالِ، وَالْأَهْوَاءِ، وَالْأَدْوَاء

“Ya Allah jauhkanlah aku dari akhlak-akhlak yang mungkar, perbuatan-perbuatan yang mungkar, dari hawa nafsu dan penyakit-penyakit.”

[HR Tirmidzi dan disahihkan Al-Hakim.]

Syaikh Abdullah Al-Basaam rahimahullah :

Ya Allah jauhkanlah aku dari akhlak-akhlak yang mungkar, maknanya adalah akhlak-akhlak yang tercela yang buruk, seperti hasad, dendam, curang, keras hati, bakhil, penakut, banyak mengeluh dan selain itu dari akhlak-akhlak yang tercela, baik di sisi syariat ataukah akal. Apabila seorang muslim sudah terbebas dari akhlak-akhlak yang buruk ini, dan setelah itu dia berhias dengan akhlak yang mulia secara syariat dan akal, seperti berlaku lembut, pemaaf, dermawan, penyabar, penyayang dan berlaku santun, tabah menghadapi gangguan, menjalankan hak-hak saudaranya, berbuat baik dan berlaku ihsan dan semisalnya maka sungguh dia telah sempurna akhlaknya. Maka akhlak yang jelek itu muncul dari hati yang sakit, sebagaimana akhlak yang mulia itu muncul dari hati yang sehat.

Adapun perbuatan-perbuatan yang mungkar yaitu seperti dosa-dosa besar dan terus-menerus dalam melakukan dosa kecil. Maka seorang muslim sebaiknya meninggalkan hal itu, sembari dia memohon pertolongan kepada Allah, dan dia berusaha berhias dengan amalan-amalan yang mulia, seperti menjalankan kewajiban, semangat dalam menjalankan hal-hal yang sunnah dan membekali diri dengan amalan-amalan yang sholeh. Apabila ia melakukan itu semuanya, maka sungguh telah menyempit imannya.

Yang dimaksud “Kejelekan hawa nafsu” adalah syahwat yang membinasakan, seperti bergelimang maksiat-maksiat dan dosa-dosa yang disukai hawa nafsu. Akan tetapi hawa nafsu dan kesukaannya itu akan membinasakannya. Maka seorang muslim harus melawan nafsunya yang sangat mengajak kepada kejelekan, agar menjadi taat dan tentram, mudah dikendalikan, sehingga kesukaannya adalah taat kepada Allah, iman yang sempurna, islam yang menyeluruh dan ihsan yang mendekatkan kepada Allah.

Adapun penyakit-penyakit itu meliputi penyakit-penyakit yang menyerang badan, seperti penyakit kronis semisal kusta, kanker, TBC dan juga penyakit-penyakit yang menyerang hati seperti syahwat maksiat, syubhat (kerancuan dalam agama) seperti bid’ah.

Kita memohon kepada Allah keselamatan.

Taudhih Al-Ahkaam 7/437

https://www.syiartauhidaceh.com/doa-berlindung-dari-akhlak-buruk-maksiat-dan-berbagai-penyakit/