Kamis, 01 Oktober 2026

Cara Meraih Ridho Allah

 Meraih ridho Allah tujuan hidup manusia

Meraih keridhaan Allah Ta’ala adalah tujuan tertinggi dan teragung, bahkan ia merupakan tujuan para penghuni surga. Allah Ta’ala berfirman:

وَرِضْوَانٌ مِنَ اللَّهِ أَكْبَرُ ذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

“Dan keridhaan Allah adalah lebih besar; itu adalah keberuntungan yang besar.” (QS. At-Taubah: 72).

Nabi dan sahabat orang yang meraih Rabbnya

Orang-orang yang selalu ruku dan sujud maka nampak cahaya di wajah mereka dengan air wudu, berseri dengan cahaya sholat, mereka meraih keridhaan Rab mereka. Allah berfirman:

مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ

“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan Dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. kamu Lihat mereka ruku dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud.” (QS. Al-Fath: 29).

ujuan yang tertinggi di sisi Rasul kita shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah meraih keridhaan Allah, dan kehidupan beliau berporos kepada mencari keridhaan Allah. Beliau memohon kepada Allah agar Allah memberi petunjuk kepadanya untuk melakukan amalan yang mendatangkan keridhaan Allah Subhanahu wa Ta’ala, beliau berkata:

أَسْأَلُكَ مِنَ الْعَمَلِ مَا تَرْضَى

“Aku memohon kepada-Mu dari amalan yang Engkau ridhai.”

Beliau juga berkata:

وَأَرْضِنَا وَارْضَ عَنَّا

“Jadikanlah kami ridha (menerima) dan ridhailah kami.”

Beliau juga berkata:

الْحَمْدُ لَكَ حَتَّى تَرْضَى

“Segala puji bagi-Mu hingga Engkau ridha.”

Beramal dan bertawakal mengundang Ridho Allah

Ayat yang lain:

وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ ۖ وَسَتُرَدُّونَ إِلَىٰ عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

Dan katakanlah, “Bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu juga Rasul-Nya dan orang-orang mukmin, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. At-Taubah, Ayat 105)

Dari Rafi' bin Khadij, "Dikatakan:

 يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ الْكَسْبِ أَطْيَبُ قَالَ عَمَلُ الرَّجُلِ بِيَدِهِ وَكُلُّ بَيْعٍ مَبْرُورٍ

"Wahai Rasulullah, mata pencaharian apakah yang paling baik?" beliau bersabda: "Pekerjaan seorang laki-laki dengan tangannya sendiri dan setiap jual beli yang mabrur.“ (HR.   Ahmad  No. 17265, Al Hakim dalam Al Mustadrak No. 2158. Syaikh Syu'aib Al Arnauth mengatakan: hasan lighairih)

Allah Ta'ala berfirman:

 وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ 

 Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.  (QS. Ath-Thalaq: 3)

Kenapa kita bertawakal setelah berusaha? Karena Allah Ta'ala yang Maha Kaya, Maha Kuat, oleh karwna itu kita bergantung kepadaNya, bukan kepada usaha sendiri. Syaikh Abdurrahman Nashir As Sa'diy Rahimahullah menjelaskan:


{وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ} أي: في أمر دينه ودنياه، بأن يعتمد على الله في جلب ما ينفعه ودفع ما يضره، ويثق به في تسهيل ذلك {فَهُوَ حَسْبُهُ} أي: كافيه الأمر الذي توكل عليه به، وإذا كان الأمر في كفالة الغني القوي [العزيز] الرحيم، فهو أقرب إلى العبد من كل شيء، ولكن ربما أن الحكمة الإلهية اقتضت تأخيره إلى الوقت المناسب له

Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah) yaitu dalam urusan agama dan dunianya, dengan menyandarkan kepada Allah Ta'ala dalam meraih manfaat dan menolak bahaya, dan meyakininya hal itu mudah bagiNya. (Maka Allah akan mencukupkan baginya) yaitu mencukupi urusan yang dia tawakalkan itu. Jika urusan dibawah kuasa dan tanggungan  yang Maha Kaya, Maha Kuat, Maha Perkasa, dan Maha Penyayang, maka hal itu lebih dekat kepada hamba tersebut dibanding apa pun juga.  Tetapi bisa jadi ada hikmah ilahiyah, bahwa keinginannya itu tertunda dan diberikan di waktu yang tepat. (Tafsir As Sa'diy, 1/869)


Bersyukur cara tercepat mendapatkan Ridho Allah

Barangsiapa yang bersyukur kepada Allah dengan hati dan anggota tubuhnya maka ia meraih keridhaan Allah. Allah berfirman:

وَإِنْ تَشْكُرُوا يَرْضَهُ لَكُمْ

“Dan jika kamu bersyukur, niscaya Dia meridhai bagimu kesyukuranmu itu.” (QS. Az-Zumar: 7).

Dan Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda:

إنَّ اللهَ لَيَرْضَى عَنِ العَبْدِ أنْ يَأكُلَ الأَكْلَةَ ، فَيَحمَدَهُ عَلَيْهَا ، أَوْ يَشْرَبَ الشَّرْبَةَ ، فَيَحْمَدَهُ عَلَيْهَا

“Sesungguhnya Allah sangat ridha kepada seorang hamba yang memakan makanan lalu memuji Allah karena makanan tersebut, atau meminum suatu minuman lalu memuji Allah karenanya.” (HR. Muslim).

Nabi Sulaiman bersyukur kepada Rabnya dengan beramal dalam mengharapkan keridhaanNya. Ia berkata:

رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَدْخِلْنِي بِرَحْمَتِكَ فِي عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ

“Ya Tuhanku berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang salih”. (QS. An-Naml: 19).