Ilmu bagai lautan yang tak terhingga sangat haus apabila kita meminumnya... dalam lautan itu banyak rizki yang bermanfaat carilah....dan nikmatilah hasilnya.........
Senin, 02 Maret 2009
BELAJAR DARI PEMBANGKANGAN BANI ISRAEL
PENDAHULUAN
Masalah Israel bukan merupakan permasalah baru, namun bukan pula untuk dilupakan. Betapa tidak begitu kejamnya Zionis membantai habis lebih dari ribuan nyawa di bumi Palestina sehingga menamcap kekuasaanya secara defakto dan dejure. Pantaslah Rasulullah menafsirkan AL-Maghdub (orang yang dimurkai) adalah gelar untuk mereka. Secara historikal mereka tidak luput dari pembangkangan terhadap Allah, yang digambarkan dalam Al-Quran. Dalam tulisan ini, akan dibahas mengenai siapa itu Israel, dan Yahudi, bagaimana pembangkangan mereka serta Azdab Allah yang turun disertai pengaruhnya untuk memurtadkan keyakinan kita
MAKNA BANI ISRAEL
Kata إسرائيل tersusun dari إسرا = عبد hamba, ئيل = الله , jadi artinya
“hamba Allah” Al-Maraghi mengemukakan ( Jilid 1, 98) , إسرائيل ialah laqab atau sebutan bagi Nabi Ya’qub bin Ishaq bin Ibrahiem as. yang berarti صفي الله , hamba Allah yang bersih, atau الأمير المجاهد pemimpin yang berjihad, sedangkan بنوه (anaknya), yaitu keturunannya yang 12 orang.
Berbicara Bani Iaraiel, akan terkait dengan nasab awalnya, Ibrahiem as..Yaitu dari Isrtinya “ Hajar “ lahir Ismaiel as. Firman Allah فبشّرنه بغلام حليم al-Shafat: 102. Mushtafa ‘Inani (1916: 6) menyebutkan بنو إسماعيل ini yang jadi bangsa Arab ( al-arab al-murta’ribah)., yang selanjutnya menjadi Arab al-Muhadditsun / moderan.
Dari Istri Ibrahiem, Sarah yang disebut aqir (mandul), punya anak bernama Ishaq. Kemudian Ishaq punya anak Yaqub, dia disebut (Israel) إسرائيل, dari sini melahirkan keturunannya yang disebut bani Israiel. Dengan keterangan di atas, maka Bani Israeil dengan Bani Ismaiel ( bangsa Arab) awalnya bernasab yang sama yaitu Ibraheim, hanya berbeda Ibu; Bani Ismaiel dari Hajjar, sedangkan Bani Israiel dari Sarah.
Dari Bani Israiel dilahirkan banyak nabi antara lain : Yusuf as, Musa, as. Harun as. Dawud as, Sulaiman as, Yunus as, Zakaiya as, Yahya as, dan ‘Isa as, yang merupakan Nabi dan Rasul Allah yang terakhir dari Bani Israeil. ( Abdu al-Wahab al-Najjar : Kissa al-Anbiya).
Kata اليهود menurut al-Raghib al-Ashfahani ( tt: 544) berakar dari هود – الهود artinya الرجوع برفق kembali dengan kelembutan/ kasih sayang. Kata الهود dalam ta’aruf / pergaulan berarti التوبة bertaubat. Kata يهود asalnya diambil dari firman Allah Swt dalam al-A’raf : 156 و اكتب لنا في هذه الدنيا حسنة و في الآخرة إناّ هدنا إليك , kata هدنا إليك artinya تبنا إليك kami bertaubat kepadamu.. Kata tersebut pada awalnya merupakan “pujian”. Kemudian setelah penghapusan syariat mereka menjadi nama bagi mereka “bangsa Yahudi” sekalipun tidak mengandung arti “pujian / المدح “. Bahkan lebih terkesan akan kenegatipannya.
Selanjutnya Yahudi adalah nama satu suku bangsa dari bangsa Bani Israeil. Bani Israeil terdiri atas dua belas suku bangsa, diantaranya : Yahudi keturunan Yahod/Yahuzda anak Israel.( A.D.EL.Marzdedeq: 2002, 2)
PEMBANGKANGAN BANI ISRAEL PADA ZAMAN NABI YA’KUB
Sebagaimana telah dikemukakan bahwa bani Israel adalah keturunan Nabi Ya’qub yang berjumlah 12 (Al-Asbaath) termasih di dalamnya Nabi Yusuf.. Pada awal kelahiran samapi beranak dewasa Nabi Yusuf hidup damai berdampingan dengan saudara-saudarnya, tetapi lama-kelamaan timbul rasa iri dan dengki terhadap Nabi Yusuf, dikarenakan Nabi Ya’kub merasa pilih kasih. Akhirnya karena kecemburuan buta maka mereka berniat untuk menjauhkanya dari Nabi Ya’kub. Ada yang mengusulkan Nabi Yusuf untuk dibunuhh, tetapi atas kecerdasan otak anak Nabi Ya’Kub bernama Yahudza mengusulkan agar membuangnya ke sumur. Jika dibunuh maka selain dosa maka rasa insan mulia dan benci akan menimpa AL-Asbaath karena kemarahan Nabi Ya’kub, begitu usul dari Yahudza.
Terlaksanalah usul Yahudza yang dispakati sudara-sauda Nabi Yusuf tersbut untuk membuang kedalam sumur. Agar tidak menimpa kemarahan Nabi Ya’kub mreka membuat baju Yusuf berlumuran darah seolah-olah Nabi Yusuf telah dimakan Serigala. Tetapi sungguh mereka mengelabui suatu hal yang pasti Allah Akan membalas perlakuan mereka. Dan akhirnya, mereka dipertemikan dengan Yusuf yang sudah dewasa menjadi bendaharawan Raja Di Mesir. Rasa sesal dan malu telah Bani Israel Rasakan ketika Nabi Yusuf yang pernah mereka jauhkan dengan Bapaknya menjadi seorang mulia dimata masyarakat. bani Israil beserta Nabi Ya’kub Pindah ke meshir dan hidup dengan tenang,.
Dalam Al-Qur’an Allah Swt. telah mengadakan perjanjian dengan Bani Israeil, di antara perjanjian itu: Perjanjian di saat nabi Ya,qub akan meninggal dunia, yaitu mereka berjanji tidak akan beribadah selain kepada Allah,dan akan menjadi muslim. Dalam al-Baqarah:133
PEMBANGKANGAN BANI ISRAEL PADA ZAMAN NABI MUSA
Setelah berketurunan dan berdampingan dengan Kekuasaan Meshir speniggal Nabi Yusuf ternyata penyakit iri dengki mnghinggapi penguasa meshir. Mereka menganggap bani Israel sebagai ancaman kekuasaan mesir sehingga menjadikannya buda-budak hina.
Karena kekejaman Firaun yang tak terkira terhadap bani Israel, Allah SWT telah mengirim nabi Musa (Moses) AS masa itu, dan memerintahkannya untuk membawa bani Israel keluar dari Mesir. Musa AS dan kaumnya meninggalkan Mesir, dengan pertolongan mukjizat Allah, sekitar tahun 1250 SM. Mereka tinggal di Semenanjung Sinai dan timur Kanaan. Dalam Al-Qur'an, Musa memerintahkan Bani Israel untuk memasuki Kanaan, (Qur'an, 5:21).
Pada masa Nabi Musa, mereka telah mengikat perjanjian dengan Allah; yaitu sepuluh jenis perjanjian: 1) ibadah hanya kepada Allah, 2) berbuat baik kepada kedua orang tua, 3). Berbuat baik kepada kerabat, 4), baik kepada anak yatim, 5) baik kepada orang miskin 6) berkata baik kepada semua orang 7).mengerjakan shalat, 8) mengeluarkan zakat, 9).tidak akan membunuh orang, dan 10). Tidak akan mengusir orang. Ini tercantum dalam al-Baqarah : 83 – 84 :
Tetapi seiring perjanjian itu, telah terbukti beberapa pembangkanya bani israel terhadap perintah-perintah Allah yaitu :
1. Meminta agar melihat Allah dengan jelas (AL-Baqarah : 55)
2. Membuat Patung anak Sapi kemudian menyembahnya. (Al-A’raf 152)
3. Melawan perintah Allah. (Al-Qur’an ; 58-59)
4. Banyak menuntut dan tidak melaksanakan perintah. Salah satunya pada peristiwa pencarian sapi betina dan tuntutan diberi sayur-mayur,gandum,bawang,dll.
5. Membunuh para Nabi. Diantaranya Nabi Zakariya dan Nabi Yahya dengan cara digergaji. Serta berencana membunuh Nabi Isa Alaihissalam. (Ali Imran : 21)
6. Melanggar hari beribadah pada hari Sabtu. (QS. Al-Baqarah : 65)
7. Menuduh Allah Kikir. (QS. Al-maidah : 64)
8. Makan riba,merampas hak orang lain, dan berbuat zhalim. (QS. An-Nisa : 160-161)
9. Mengubah ayat-ayat Allah yang disesuaikan dengan keinginan mereka. Kitab yang mereka ubah-ubah adalah taurat,(QS. Al-Baqarah 75). Bahkan membuat kitab sendiri yang bernama Talmudz.
10. Selalu bermusuhan dan berbuat keruksakan terhadap umat islam. (QS. Al-Maidah : 64)
Setelah Musa AS, bangsa Israel tetap berdiam di Kanaan (Palestina). Menurut ahli sejarah, Daud (David) menjadi raja Israel dan membangun sebuah kerajaan berpengaruh. Selama pemerintahan putranya Sulaiman (Solomon), batas-batas Israel diperluas dari Sungai Nil di Selatan hingga sungai Eufrat di negara Siria sekarang di utara.
Ini adalah sebuah masa gemilang bagi kerajaan Israel dalam banyak bidang, terutama arsitektur. Di Yerusalem, Sulaiman membangun sebuah istana dan biara yang luar biasa. Setelah wafatnya, Allah mengutus banyak lagi nabi kepada Bani Israel meskipun dalam banyak hal mereka tidak mendengarkan mereka dan mengkhianati Allah.
Setelah kematin Sulaiman, kerajaan yahudi terbelah di utara Israel dengan ibukota Samarria dan Di Selatan Juda dengan ibukota Yerrusalem. Dengan berlalunya waktu Suku yahudi jatuh di bawah Assyurriea dan Babilon atau pergi ke Mesir sebagai pelarian. Ketika raja Perrsia Kyros 539 SM mengizinkan orang Yahudi kembali dari pelarian mereka, banyak orang Yahudi yang tidak kembali, di sinilah mulainya Diaspora.
63 SM Juda dan Israel jatuh ke tangan ornag Romawi dan tahun 70 berhasil menghancurkan pemberontakan Yerusalem dan menghancurkan biara dan Juda.
BANI ISRAEL PADA MASA KINI
Setelah itu kehidupan orang Yahudi hanya ada dalam pelarian dan pengejaran, baru di kekalifahan Usman, orang Yahudi dapat merasakan kehidupan yang damai dengan membayar pajak perlindungan. Akhir abad ke 19, ditunjang oleh Jewish Colonization Assocation Baron Hirsch, Yahudi dari Eropa Timur berreimigrasi ke Argentina dan membentuk Kolonialisme pertanian, untuk kembali ke Palestina. Ini dimulai tahun 1881.
Pada Tahun 1896 Theodor Herzl kelahiran Budapest membuat Negara Yahudi. Tujuannya untuk membuat negara untuk orang Yahudi di Palestina, didukung oleh uang hasil sumbangan dari seluruh orang Yahudi di dunia. Herzl ini juga dikenal pendiri zionisme, yang juga tidak disetujui oleh orang Yahudinya sendiri.
Kini, banyak kaum Yahudi agamis, yang menentang Zionisme, mengemukakan kenyataan ini. Sebagian dari para Yahudi taat ini bahkan tidak mengakui Israel sebagai negara yang sah dan, oleh karenanya, menolak untuk mengakuinya. Negarawan Israel Amnon Rubinstein mengatakan: “Zionisme adalah sebuah pemberontakan melawan tanah air (Yahudi) mereka dan sinagog para Pendeta Yahudi”. (Amnon Rubinstein, The Zionist Dream Revisited, p. 19)
Pendeta Yahudi, Forsythe, mengungkapkan bahwa sejak abad ke-19, umat Yahudi telah semakin jauh dari agama dan perasaan takut kepada Tuhan. Kenyataan inilah yang pada akhirnya menimpakan hukuman dalam bentuk tindakan kejam Hitler (kepada mereka), dan kejadian ini merupakan seruan kepada kaum Yahudi agar lebih mentaati agama mereka. Pendeta Forsythe menyatakan bahwa kekejaman dan kerusakan di bumi adalah perbuatan yang dilakukan oleh Amalek (Amalek dalam bahasa Taurat berarti orang-orang yang ingkar kepada Tuhan), dan menambahkan: “Pemeluk Yahudi wajib mengingkari inti dari Amalek, yakni pembangkangan, meninggalkan Taurat dan keingkaran pada Tuhan, kebejatan, amoral, kebiadaban, ketiadaan tata krama atau etika, ketiadaan wewenang dan hukum.” (Rabbi Forsythe, A Torah Insight Into The Holocaust, )
Zionisme, yang tindakannya bertentangan dengan ajaran Taurat, pada kenyataannya adalah suatu bentuk fasisme, dan fasisme tumbuh dan berakar pada keingkaran terhadap agama, dan bukan dari agama itu sendiri. Karenanya, yang sebenarnya bertanggung jawab atas pertumpahan darah di Timur Tengah bukanlah agama Yahudi, melainkan Zionisme, sebuah ideologi fasis yang tidak berkaitan sama sekali dengan agama
Gertakan Zionisme dan Freemasonry di seluruh dunia sesungguhnya memiliki asas yang sama. Asas dari dua gerakan ini disebut “Khams Qanun”, lima sila, atau Panca Sila. Kelima Sila itu adalah :
1. Monotheisme : Kesatuan Tuhan (Ketuhanan yang Maha Esa) Hendaklah bangsa Yahudi bertuhan dengan Tuhannya masing-masing dan merupakan kesatuan gerak. Maka hai orang-orang atheis dan bebas agama di kalangan bangsa Yahudi hendaklah engkau pun bertuhan dengan tuhanmu sendiri bukankah alam pun tuhanmu dan bukankah kudrat alam pun tuhanmu juga? Kalian berlainan agama, kalian berlainan keper-cayaan, kalian berlainan keyakinan, tetapi kalian harus bersatu dan gunung zionisme telah menan-timu. Hendaklah kalian tenggang menenggang, hormat menghormati hai Yahudi seluruh dunia !
2. Nasionalisme - Kebangsaan :Berbangsa satu bangsa Yahudi, berbahasa satu bahasa Yahudi dan bertanah air satu tanah air Yahudi Raya (Israel Raya).
3. Humanisme : Kemanusiaan yang adil dan beradab berlakulah, janganlah kalian menjadi peniru bangsa Babilon yang telah membuangmu, tetapi bagi luar bangsamu dan yang hendak mem-binasakanmu, kalian adalah bangsa besar dan engkau pun jika keperluanmu mendesak ber-lakulah Syer Talmud baginya, seperti nyanyian Qaballa berbunyi : “Taklukanlah mereka, binasakanlah mereka akan mengambil hakmu, engkau adalah setinggi-tinggi bangsa seumpama menara yang tinggi. Gunakanlah hatimu ketika menghadapi sauda-ramu, karena mereka itu keturunan Yaqub, ketu-runan Israel. Buanglah hatimu ketika menghadapi lawanmu karena mereka itu bukan sekali-kali saudaramu, mereka adalah kambing-kambing perahan dan harta mereka adalah hartamu, rumah mereka adalah rumahmu, tanah mereka adalah tanahmu.”(Syer Talmud Qaballa XI :45)
4. Demokrasi : Dengan cahaya Talmud dan Masna dan segala ucapan imam-imam agung bahwa telah diundangkan “Bermusyawarahlah dan berapatlah dan berlakulah pilihan kehendak suara banyak itu karena suara banyak adalah suara Tuhan!”
5. Sosialisme : Keadilan sosial yang merata pada masyarakat Yahudi, sehingga setiap orang Yahudi menjadi seorang kaya raya dan menjadi pimpinan dimana pun ia berada, dan menjadi protokol pembuat program. Dalam Nyanyian Qaballa Talmud dikatakan : “Dengan uang kamu dapat kembali ke Yudea, ke Israel karena agama itu tegak dengan uang dan agama itu uang, sesungguhnya wajah Yahwe sendiri yang tampak olehmu itu adalah uang! Cintailah Zion, cintailah Hebran, cintailah akan Yudea dan cintailah seluruh tanah pemukiman Israel, karena engkaulah bangsa pemegang wasiat Hebran tertua yang berbunyi :”Cinta pada tanah air itu sebagian dari iman!” (XL : 46)
PENUTUP :REFLEKSI PEMBELAJARAN
Dari pembahasan singkat diatas kita harusnya bisa merenung apakah kita termasuk sifat-sifat keisraelan atau keyahudian yang selalu membangkang perintah Allah. Bahkan masuk kedalam perangkap zionis yang menginginkan kita jauh dari ajaran islam. Zionis dengan gerakan fremansonrinya mengingikan umat islam agar tergiur dengan materialisme semu, dan anti Tuhan. Tidak sedikit umat islam kita terjebak dalam perangkapnya dengan rumus 4F yaitu FUN, FREE SEKS, FASHION, And FOOD.
Yahudi dan zionis masa kini kecil popularitasnya tetapi sangat berpengaruh hegomoninya di dunia ini. Dalam Atlas of The World's Religions, disebutkan jumlah pemeluk agama Yahudi 15.050.000. Pemeluk Islam adalah 1.179.326.000, dan pemeluk Kristen 1.965.993.000. (Ninian Smart, Atlas of The World's Religions, (New York: Oxford University Press, 1999). CM Pilkington, dalam bukunya, Judaism, malah menyebut jumlah Yahudi hanya 13 juta. Mereka kini tersebar utamanya di 10 negara, yaitu USA (5.800.000), Israel (5.300.000), Bekas Uni Soviet (879.800), Perancis (650.000), Kanada (362.000), Inggris (285.000), Brazil (250.000), Argentina (240.000), Hongaria (100.000), dan Australia (97.000). (Lihat, Pilkington, Judaism, (London: Hodder Headline Ltd., 2003).
Kenapa mereka begitu kuat dan kita begitu lemah???ketika dalam diaspora dan ketertindasan kaum yahudi mampu bangkit dari keterpurukan dan melakukan peningkatan intelektual di berbagai bidang. Tahun 2003 lalu, saat pembukaan KTT Organisasi Islam di Kuala Lumpur (16/10/2003), Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohammad kala itu juga sudah mengingatkan bahaya kekuasaan Yahudi di dunia. Mahathir mengajak umat Islam untuk melihat sejarah, bagaimana bangsa kecil yang ditindas dimana-mana selama ribuan tahun itu kini bisa menguasai dunia.
Dalam pidatonya tersebut, Mahathir Mohammad sebenarnya lebih menekankan, agar umat Islam belajar dari sejarah Yahudi. Bagaimana bangsa kecil yang mengalami penindasan selama ribuan tahun ini, berhasil survive (selamat) dan bahkan kemudian menjadi salah satu kekuatan dunia (world power). Ia menekankan, bahwa Yahudi selamat, lebih karena menggunakan “otak”, dan bukan hanya kekuatan fisik. “Muslims were up against people who think; people who survived 2000 years of pogroms not by hitting back, but by thinking.”
Yahudi, menurut Mahathir, mampu keluar dari keterpurukannya karena mereka menggunakan akalnya. Tapi, kita paham, bahwa akal saja tidaklah cukup. Yang penting juga adalah aqidah dan akhlak. Islam akan mampu meraih kemenangan jika mampu memadukan dua unsure yang tepat dalam perjuangan, yaitu kecerdasan dan keikhlasan. Betapapun hebatnya akal yang kita punya, betapa pun jitunya strategi yang kita terapkan, jika tidak dilakukan dengan keikhlasan, maka kemenangan pun tidak akan kunjung tiba. Keikhlasan dalam berjuang inilah yang memungkinkan kita mampu membuang jauh-jauh semangat ashabiyah dan golonganisme di tengah kita.
Jumat, 06 Februari 2009
MENYALAHKAN ORANG LAIN ADALAH SALAH??
MENYALAHKAN ORANG LAIN ADALAH SALAH??
Oleh : Ihsan Kamaludin
Jangan saling menyalahkan orang lain!!!!itulah kata Al-Qur’an ”laa yaskhar qaumun min qaumin assa an-yakuna khairan minhum”(jangan memperolok-olok suatu kaum boleh jadi yang diperolok-olok lebih abik dari mereka). Jadi tinggal pilih ingin mengikuti Al-Qur’an atau mengikuti ulama yang sesat???”. Begitulah kira-kira kutipan dari ceramah seorang mubaligh yang peulis dengar. Ada lagi kalimat lain seperti “jangan saling menyalahkan telunjuk yang bergerak-gerak dengan yang tidak, karena Allah tidak akan melihat hal-hal kecil seperti itu”. Spontan membuat mustami’ kaget sekaligus tegang termasuk pernulis. Sebuah ceramah yang berapi-api dan penuh semangat dengan mengambil tema hakikat perpecahan dalam Islam di sebuah pengajian umum.
Inti dari ceramah tersebut mengungakpkan perpecahan dalam islam disebabkan karena saling menyalahkan bahkan menyebutkan ulama suu (ulama jahat) yang saling menyalahkan dalam hal ibadah seperti qunut, taraweh, yasinan,dll. Penceramah tersebut brgelar Lc dan MA yang menunjukan lulusan timur tengah. Bila ada yang menentang atau yang menyalahkan tinggal ditanya saja berapa kitab yang dia baca. Salah satu contoh Shahih Bukhari yang berjumlah 4 Kitab di kita rata-rata hanya dibaca ringkasanya saja sedangkan yang aslinya ada 600 ribu kitab.
Sedikit mengelitik pemikiran penulis yang ingin menangapi ceramah tersebut lewat tulisan ini. Sebuah tanggapan yang masihdalam proses pembelajaran namun ada beberapa yang seolah bertentangan dengan apa yang menjadi sumber kita yakni Al-Qur’an dan yang kedua yaitu As-Sunnah sesuai dengan yang penulis dapati di pesantren. Pertama, mengambil kesimpulan haram hukumnya (tidak boleh) menyalahkan bahkan memperolok-olok orang lain seperti dalam Surat Al-Hujurat ayat 11 yaitu :
Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. dan janganlah suka mencela dirimu sendiri[1409] dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman[1410] dan barangsiapa yang tidak bertobat, Maka mereka Itulah orang-orang yang zalim.
Jika melihat tafsir Imam Al-Maraghi arti Sukhriyah : adalah mengolok-olok, menyebut-nyebut aib dan kekuarangan-kekurangan orang lain yang menimbulkan tawa. Jadi yang dimaksud Sukhriyah yang dilarang ini adalah memperolok-olok, menghina aib dan kekurangan fisik orang lain bukan menyalahkan orang yang selalu menyalahkan ibadah orang lain. Sebagaimana At-Tirmizdi meriwayatkn bahwasanya Aisyah pernah menyembutkan Shafiyah Sorang wanita...Sambil memperagakan dengan tanganya sedemikian rupa maksudnya bahwa shafiyah itu pendek. Maka Rasul saw. Bersabda, ”sesungguhnya kamu telah mencampur suatu kata-kata yang sekiranga dicampur dengan air laut, tentu akan bercampur seluruhnya”
Jika muslim menyalahkan atau menasehati orang lain yang benar-benar salah artinya tidak sesuai dengan syariat, maka disitulah justru ada kewajiban dakwah. Dengan dakwah ini kita menjadi Istiqamah dalam kebenaran. Sesuai dengan Surat Al-Ashr agar kita tidak rugi dunia akhirat harus saling bertaushiah dalam kebenaran dan kesabaran.Bahkan diperintah untuk amar makruf nahi munkar dan dilarang berpecah seperti dalam Surat Ali-Imran 104 & 105
Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar[217]; merekalah orang-orang yang beruntung.
Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. mereka Itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat,
Dalam Hadits Rasulullah menyatakan bahwa baransiapa melihat kemungkaran maka rubahlah dengan tangan (kekuasaan), apabila tidak bisa maka rubahlah dengan lisan,apabila tidak mampu rubahlah dengan hati dan itulah selemah-lemah imanya. Inilah tugas muslim untuk saling menyampaikan kebenaran dari Allah dan rasulnya sebagai Ballighu anni walau ayatan (penyampai risalah rasul walaupun satu ayat).
Kedua, mubaligh tersebut menyatakan bahwa Allah tidak akan melihat hal-hal kecil seperti mengerak-gerakan telunjuk ketika sholat. Inilah merupakan hemat penulis kalimat yang menafikan kekuasaan Allah sebagai maha melihat. Dalam Al-Qur’an berkali-kali diungkapkan bahwa Allah maha melihat apa yang kita kerjakan. Walau sekecil apapun amal kita pasti akan dipertangungjawabkan di hadapan Allah Swt. Disebutkan dalam surat Al-Zalzalah sebsar dzarah pun amal buruk dan amal baik kita akan diganjar dengan setimpal. Bahkan Sabda Nabi lebih tegas lagi dengan mengatakan barang siapa yang beramal selain apa yang di perintahkan (dicontohkan) maka amal itu tertolak. Naudzubillahi mindzalik
Dari tanggapan ini, penulis bukan hendak memperbesar perpecahan. Namun, hendaknya kita kembali mentafakuri hakikat umat zaman ini. Kita sedang dilanda krisis ukhuwah akibat dari kurangnya pemahaman terhadap Al-Quran dan As-Sunnah dengan benar. Padahal Dalam Surat Ali-Imran 103 telah mengisyaratkan pada kita agar berpengang teguh kepada tali Allah (Al-Qur’an dan As-Sunnah) dan jangan bercerai berai. Memang di dalam umat ini, ada beberapa golongan yang mengklaim paling benar dan intolelir terhadap pendapat orang lain. Padahal imam mazdhab seperti Imam Malik, Hanafi, Syafi’i dan Hambali tidak menganggap pendapat mereka paling benar dan menyalahkan pendapat yang lain. Kesimpulan mereka adalah yang paling kuat argumentasinya berdasarkan ijtihad syar’i (sesuai dengan qur’an dan sunnah) silahkan ambil dari madzhab manapun serta adanya saling menghargai pendapat. Tetapi juga membiarkan umat terlalu bebas berpendapat dan menjadi liberal buta dapat memicu perpecahan umat. Oleh karena itu Lebih baik kita kaji lagi summber pegangan al-qur’an dan As-Sunnah sebagai alat penyelamat dari kesesatan akhir zaman. Wallahu a’lam
PALESTINA DAN MANDULNYA UKHUWAH ISLAMIYAH
PALESTINA DAN MANDULNYA UKHUWAH ISLAMIYAH
Collected By :Ihsan Kamaludin*
Pada Akhir tahun 2008 kita dikejutkan oleh petasan-petasan fosfor tentara
Itulah fenomena dunia islam secara macro yang tengah mengalami polemik. Sebuah masalah berkepanjangan yang merasuki tubuh umat Rasul abad 21. permasalahan tersebut penulis identifikasikan dengan keterbelakangan pada aspek sosial dan intelektual dari kaum kaum non muslim. Sebagaimana ditulis ulama moderen bahwa umat ini tertinggal karena meningalkan kitab sucinya sedangkan mereka maju karena meninggalkan kitab sucinya. Terutama rapuhnya ukuwah islamiyah dan lemahnya intelektual muslim.Dalam tulisan ini, penulis ingin mengungkapkan kembali referensi dan litelatur tentang ukhuwah islamiya yang seolah-olah mandul padahal ini merupakan kunci dari kekuatan islam sebagai Diinil-Haq (Agama Yang Benar).
MAKNA UKHUWAH
Manusia adalah makhluk individu sekaligus makhluk sosial. Sebagai makhluk individu ia memiliki karakter yang unik, yang berbeda satu dengan yang lain, dengan fikiran dan kehendaknya yang bebas. Dan sebagai makhluk sosial ia membutuhkan manusia lain, membutuhkan sebuah kelompok - dalam bentuknya yang minimal - yang mengakui keberadaannya, dan dalam bentuknya yang maksimal - kelompok di mana dia dapat bergantung kepadanya.
Kebutuhan untuk berkelompok ini merupakan naluri yang alamiah, sehingga kemudian muncullah ikatan-ikatan - bahkan pada manusia purba sekalipun. Kita mengenal adanya ikatan keluarga, ikatan kesukuan, dan pada manusia modern adanya ikatan profesi, ikatan negara, ikatan bangsa, hingga ikatan peradaban dan ikatan agama. Juga sering kita dengar adanya ikatan berdasarkan kesamaan species, yaitu sebagai homo erectus (manusia), atau bahkan ikatan sebagai sesama makhluk Allah.
Islam sebagai sebuah peradaban - terlebih sebagai sebuah din - juga menawarkan bahkan memerintahkan/menganjurkan adanya sebuah ikatan, yang kemudian kita kenal sebagai ukhuwah Islamiah.
Dalam Wawasan Al Qur'an, Dr. Quraish Shihab menulis bahwa ukhuwah (ukhuwwah) yang biasa diartikan sebagai "persaudaraan", terambil dari akar kata yang pada mulanya berarti "memperhatikan". Makna asal ini memberi kesan bahwa persaudaraan mengharuskan adanya perhatian semua pihak yang merasa bersaudara.
Sedang makna ukhuwah Islamiah terkadang diartikan sebagai "persaudaraan antar sesama muslim", di mana kata "Islamiah" menunjuk kepada pelaku; dan terkadang juga diartikan sebagai "persaudaraan yang bersifat Islami atau yang diajarkan oleh Islam", di mana di sini kata "Islamiah" difahami sebagai kata sifat. Menurut Imam Hasan Al-Banna: Ukhuwah Islamiyah adalah keterikatan hati dan jiwa satu sama lain dengan ikatan aqidah
Dalam kajian ini, kedua makna tersebut saya gunakan sehingga ukhuwah islamiah diartikan sebagai "persaudaraan antar sesama muslim yang diajarkan oleh Islam dan bersifat Islami". Dengan definisi yang 'lengkap' ini, pertanyaan what, who dan how tentang ukhuwah Islamiah ini secara general telah terjawab.
Adapun tinjauan Al-Qur’an tentang Hakekat Ukhuwah Islamiyah adalah sebagai berikut :
1. Nikmat Allah (QS. 3: 103)
Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, Maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu Karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu Telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.
2. Perumpamaan tali tasbih (QS. 43: 67)
Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa.
3. Merupakan arahan Rabbani (QS. 8: 63)
Dan yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman)[622]. walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah Telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya dia Maha gagah lagi Maha Bijaksana.
4. Merupakan cermin kekuatan iman (QS. 49: 10)
Artinya: "Sesungguhnya orang-orang mu'min adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat." (Al Hujurat:10)
Juga di dalam sebuah hadits dari Ibnu Umar ra yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim, Rasulullah saw bersabda:"Orang muslim itu saudara bagi orang muslim lainnya. Dia tidak menzaliminya dan tidak pula membiarkannya dizalimi."
Dari dalil naqli di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa sesama muslim dan juga sesama mu'min adalah bersaudara, di mana tentunya kesadaran terhadap hal ini akan memberikan konsekuensi berikutnya.
Hal-hal yang menguatkan Ukhuwah Islamiyah:
1. Memberitahukan kecintaan pada yang kita cintai
2. Memohon dido’akan bila berpisah
3. Menunjukkan kegembiraan & senyuman bila berjumpa
4. Berjabat tangan bila berjumpa (kecuali non muhrim)
5. Mengucapkan selamat berkenaan dengan saat-saat keberhasilan
6. Memberikan hadiah pada waktu-waktu tertentu
7. Sering bersilaturahmi (mengunjungi saudara)
8. Memperhatikan saudaranya & membantu keperluannya
9. Memenuhi hak ukhuwah saudaranya
TAHAPAN IMPLEMENTASI
Dalam rangka mewujudkan ukhuwah Islamiah - bahkan juga dalam rangka menjalin hubungan dalam maknanya yang umum - ada beberapa tahapan konseptual yang perlu diperhatikan. Secara garis besar tahapan tersebut dapat dibagi menjadi:
1. Ta'aruf
Ta'aruf dapat diartikan sebagai saling mengenal. Dalam rangka mewujudkan ukhuwah Islamiyah, kita perlu mengenal orang lain, baik fisiknya, pemikiran, emosi dan kejiwaannya. Dengan mengenali karakter-karakter tersebut,
Dalam Surat Al Hujurat, Allah berfirman:
Artinya: "Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal." (Al Hujurat:13)
Ta'aruf ini perlu kita lakukan dari lingkungan yang terdekat dengan kita. Dengan keluarga, dengan lingkungan sekolah atau tempat bekerja, hingga berta'aruf dalam komunitas yang lebih luas, seperti dalam komunitas KMII.
2.Tafahum
Pada tahap tafahum (saling memahami), kita tidak sekedar mengenal saudara kita, tapi terlebih kita berusaha untuk memahaminya. Sebagai contoh jika kita telah mengetahui tabiat seorang rekan yang biasa berbicara dengan nada keras, tentu kita akan memahaminya dan tidak menjadikan kita lekas tersinggung. Juga apabila kita mengetahui tabiat rekan lain yang sensitif, tentu kita akan memahaminya dengan kehati-hatian kita dalam bergaul dengannya.
Perlu diperhatikan bahwa tafahum ini merupakan aktivitas dua arah. Jadi jangan sampai kita terus memposisikan diri ingin difahami orang tanpa berusaha untuk juga memahami orang lain.
3.Ta'awun
Ta'awun atau tolong-menolong merupakan aktivitas yang sebenarnya secara naluriah sering (ingin) kita lakukan. Manusia normal umumnya telah dianugerahi oleh perasaan 'iba' dan keinginan untuk menolong sesamanya yang menderita kesulitan - sesuai dengan kemampuannya. Hanya saja derajat keinginan ini berbeda-beda untuk tiap individu.
Dalam surat Al Maidah, Allah berfirman:
Artinya: "Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya." (Al Maaidah:2)
Dalam dalam hadits:
Artinya: "Dan Allah akan selalu siap menolong seorang hamba selama hamba itu selalu siap menolong saudaranya."
Juga dalam hadits Ibnu Umar di atas ("al muslimu akhul muslimi ..."), seterusnya disebutkan bahwa siapa yang memperhatikan kepentingan saudaranya itu maka Allah memperhatikan kepentingannya, dan siapa yang melapangkan satu kesulitan terhadap sesama muslim maka Allah akan melapangkan satu dari beberapa kesulitannya nanti pada hari qiyamat, dan barangsiapa yang meneymbukan rahasia seorang muslim maka Allah menyembunyikanrahasianya nanti pada hari qiyamat.
Dalil naqli di atas memberi encouragement bahkan perintah kepada orang beriman untuk tolong-menolong, yang dibatasi hanya dalam masalah kebajikan dan taqwa. Bentuk tolong-menolong ini bisa dilakukan dengan saling mendo'akan, saling menasihati, juga saling membantu dalam bentuk amal perbuatan. Kalaupun tidak turut berperang, kita dapat ikut menyediakan bekal menghadapi peperangan, misalnya.
Dalam masalah-masalah yang jelas kesalahannya, kita dilarang untuk saling memberikan pertolongan. Contoh ringan yang mungkin pernah kita alami saat masih sekolah, misalnya memberi contekan saat ulangan. Mungkin saat itu kita merasa sungkan untuk menolak memberi 'pertolongan'. Dan contoh yang lebih berat mungkin akan sering kita jumpai seiring dengan semakin dewasanya kita dan semakin kompleksnya permasalahan yang kita hadapi.
Dalam hal ini kita perlu memperhatikan hadits shahih dari Anas bin Malik ra, bahwa Rasulullah saw bersabda:
Artinya: "Tolonglah saudaramu yang berbuat zalim atau yang dizalimi." Aku bertanya, "Ya Rasulullah, menolong orang yang dizalimi dapatlah aku mengerti. Namun, bagaimana dengan menolong orang yang berbuat zalim?" Rasulullah menjawab, "Kamu cegah dia agar tidak berbuat aniaya, maka itulah pertolonganmu untuknya."
Jadi kita seharusnya berterima kasih jika ada yang menegur kita, bahkan mencegah kita dengan kekuatan manakala kita sedang berbuat kesalahan.
4.Takaful
Takaful ini akan melahirkan perasaan senasib dan sepenanggungan. Di mana rasa susah dan sedih saudara kita dapat kita rasakan, sehingga dengan serta merta kita memberikan pertolongan. Dalam sebuah hadits Rasulullah memberikan perumpamaan yang menarik tentang hal ini, yaitu dengan mengibaratkan orang beriman - yang bersaudara - sebagai satu tubuh.
Dalam hadits:
Artinya: "Perumpamaan orang-orang beriman di dalam kecintaan, kasih sayang, dan hubungan kekerabatan mereka adalah bagaikan tubuh. Bila salah satu anggotanya mengaduh sakit maka sekujur tubuhnya akan merasakan demam dan tidak bisa tidur."
Unsur pokok di dalam ukhuwah adalah mahabbah (kecintaan), yang terbagi dalam beberapa tingkatan:
Tingkatan terendah adalah salamus shadr (bersihnya jiwa) dari perasaan hasud, membenci, dengki dan sebab-sebab permusuhan/pertengkaran. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari Muslim, Rasulullah saw bersabda bahwa tidak halal bagi seorang muslim mendiamkan saudaranya selama tiga hari, yang apabila saling bertemu maka ia berpaling, dan yang terbaik di antara keduanya adalah yang memulai dengan ucapan salam. Juga dalam hadits lain yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah, Rasulullah saw bersabda bahwa ada tiga orang yang shalatnya tidak diangkat di atas kepala sejengkal pun, yaitu seorang yang mengimami suatu kaum sedangkan kaum itu membencinya, wanita yang diam semalam suntuk sedang suaminya marah kepadanya, dan dua saudara yang memutus hubungan di antara keduanya.
Tingkatan berikutnya adalah cinta. Di mana seorang muslim diharapkan mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri, seperti dalam hadits: "Tidak sempurna iman seseorang di antara kamu sehingga ia mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri." (HR muttafaq alaihi)
Tingkatan yang tertinggi adalah itsar, yaitu mendahulukan kepentingan saudaranya atas dirinya dalam segala sesuatu yang ia cintai, sesuatu yang untuk zaman sekarang sering baru mencapai tahap wacana. Patut kita renungkan kisah sahabat nabi dalam sebuah peperangan, di mana dalam keadaan sekarat dan kehausan dia masih mendahulukan saudaranya yang lain untuk menerima air.
Juga contoh yang dilakukan oleh shahabat Anshar, Sa'ad bin rabbi' yang menawarkan hartanya, rumahnya, istrinya yang terbaik untuk dimiliki oleh Abdurrahman bin Auf. Dalam hal ini Abdurrahman bin Auf pun berlaku iffah dengan hanya meminta untuk ditunjukkan jalan ke pasar. Kisah-kisah di atas kalaupun belum mampu kita lakukan, minimal kita jadikan sebagai sebuah motivasi awal untuk sedikit lebih memperhatikan saudara kita yang lain.
BUAH UKHUWAH ISLAMIYAH
1. Merasakan lezatnya iman
2. Mendapatkan perlindungan Allah di hari kiamat (termasuk dalam 7 golongan yang dilindungi)
3. Mendapatkan tempat khusus di syurga (15:45)
KESIMPULAN
Tidak dapat kita pungkiri bahwa umat Islam dewasa ini tidak dalam keadaan bersatu, baik dalam skala internasional maupun dalam skala nasional. Memang keragaman pandangan dan sikap merupakan sebuah keniscayaan bagi kaum muslimin. (bahkan dalam Al Hujurat:10 di atas, perintah "faashlihu baina akhowaikum" memberikan isyarat bahwa dalam kaum mu'min pun masih memungkinkan terjadinya perselisihan). Adanya ikhtilaf dan perbedaan pendapat pun bukanlah sesuatu yang tabu, kecuali dalam masalah yang pokok dan nash-nash yang qath'i dan disepakati (mis: aqidah).
Keberadaan musuh di luar Islam adalah sebuah fakta yang tidak perlu ditutup-tutupi. Allah pun telah menyebutkannya dalam Al Baqarah:120 tentang tidak ridhonya kaum Yahudi dan Nasrani terhadap umat Islam, hingga umat Islam meninggalkan diinnya dan mengikuti millah mereka. Dan juga permusuhan syetan yang abadi terhadap keturunan Adam.
Terhadap kondisi yang telah jelas - terang-benderang ini - seharusnya umat Islam tidak ragu-ragu lagi dalam bersikap. Apalagi di dalam tahun-tahun terakhir ini, pertentangan-pertentangan ini sering muncul ke permukaan. Dalam skala dunia, mulai dari muculnya thesis Samuel Huntington tentang bentrokan peradaban hingga yang paling mutakhir adalah pencanangan "War on Terrorism" dengan pemaknaan terorisme yang bias. Lengkap dengan aksi-aksi sepihak di berbagai belahan bumi, seperti di Palestina, Bosnia dan Chechnya. Untuk lingkup nasional pun kita masih tetap prihatin dengan konflik yang terjadi antara lain di Maluku dan Poso, yang mudah-mudahan segera memberikan solusi yang terbaik.
Terhadap kondisi ini banyak yang dapat dilakukan oleh kaum muslimin selain sekedar berdiam diri. Untuk kasus-kasus di mana terjadi penindasan umat Islam kita dapat turut membantu dengan do'a kita, dengan dana kita, atau dengan opini yang berusaha kita bentuk. Sambil tentunya tidak lupa kita memperkuat simpul-simpul kekuatan untuk mencegah penindasan di masa mendatang; kekuatan iman, kekuatan ukhuwah, juga kekuatan pendukung lainnya, seperti persenjataan, ekonomi, dll.
Terakhir saya hanya ingin mengajak kita untuk merenungkan ayat berikut:
Artinya: "Dan Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Perkasa, lagi Maha Bijaksana." (Al Anfaal:63)
Semoga Allah menyatukan hati-hati kita, menjadikan kita saling mencintai karena Dia; sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan oleh Tirmidzi Rasululllah saw bersabda:
"Di sekitar Arsy ada menara-menara dari cahaya. Di dalamnya ada orang-orang yang pakaiannya dari cahaya dan wajah-wajah mereka bercahaya. Mereka bukan para nabi atau syuhada'. Para nabi dan syuhada' iri kepada mereka. Ketika ditanya para shahabat, Rasulullah menjawab, "Mereka adalah orang-orang yang saling mencintai karena Allah, saling bersahabat karena Allah dan saling kunjung karena Allah."
Wallahu a'lam
*Dikutip dari beberapa referensi situs muslim
Minggu, 25 Januari 2009
Mengapa Kita Kalah?"
| "Mengapa Kita Kalah?" | | | |
| Tuesday, 06 January 2009 06:12 |
| Mahathir Mohammad pernah mengatakan, umat Islam seharusnya bisa belajar dari sejarah Yahudi. Apa maksudnya? Baca Catatan Akhir Pekan [CAP] Adian Husaini ke-253
Tahun 1969, menyusul kekalahan Arab dalam Perang Tahun 1967, Dr. Yusuf Qaradhawi menulis satu buku berjudul: ”Dars an-Nukbah ats-Tsaniyah: Limadza Inhazamnaa wa Kaifa Nantashir.” (Diterbitkan di Indonesia tahun 1988 oleh Pustaka Bandung dengan judul: ”Mengapa Kita Kalah di Palestina?). Dalam bukunya, al-Qaradhawi menegaskan: ”Satu hal yang amat saya tegaskan di sini adalah keharusan kita untuk kembali kepada Islam. Islam yang benar. Islam yang menyeluruh yang mengembalikan diri kita – sebagaimana yang dulu pernah terjadi – menjadi sebaik-baik ummat yang pernah dihadirkan untuk seluruh ummat manusia. Tanpa kembali kepada Islam, maka nasib yang akan kita alami, sungguh amat mengerikan, dan masa depan pun akan demikian gelap gulitanya.” Mengapa kita kalah di Palestina? Itulah pertanyaan yang sudah menggayuti kaum Muslimin sejak puluhan tahun lalu. Mengapa umat Islam yang jumlahnya sekitar 1,4 milyar jiwa tidak berdaya menghadapi kekejaman dan kebiadaban Zionis-Yahudi yang jumlahnya hanya beberapa juta saja. Perlu kita renungkan, bahwa jumlah kaum Yahudi di seluruh dunia hanyalah sekitar 15 juta jiwa. Dalam Atlas of The World's Religions, disebutkan jumlah pemeluk agama Yahudi 15.050.000. Pemeluk Islam adalah 1.179.326.000, dan pemeluk Kristen 1.965.993.000. (Ninian Smart, Atlas of The World's Religions, (New York: Oxford University Press, 1999). CM Pilkington, dalam bukunya, Judaism, malah menyebut jumlah Yahudi hanya 13 juta. Mereka kini tersebar utamanya di 10 negara, yaitu USA (5.800.000), Israel (5.300.000), Bekas Uni Soviet (879.800), Perancis (650.000), Kanada (362.000), Inggris (285.000), Brazil (250.000), Argentina (240.000), Hongaria (100.000), dan Australia (97.000). (Lihat, Pilkington, Judaism, (London: Hodder Headline Ltd., 2003). Mengapa kita kalah? Hari-hari ini kita terus menyaksikan dan meratapi saudara-saudara kita dibantai satu per satu oleh kaum Yahudi. Kita hanya bisa memanjatkan doa, berteriak, marah, protes, demonstrasi, dan menggalang dana bantuan. Itulah yang bisa kita lakukan. Kita kalah, dan tidak berdaya menghadapi kondisi yang memilukan ini. Sama dengan nasib bangsa kita yang ratusan tahun dijajah oleh bangsa-bangsa mini. Dunia mengutuk kekejaman Zionis Israel. Namun, Israel tidak peduli. Mereka merasa kuat karena jelas-jelas didukung oleh negara adikuasa AS dan sekutu-sekutunya. Sistem PBB sudah diatur sedemikian rupa sehingga tidak bisa merugikan kepentingan Israel. Jika sebelumnya banyak yang menaruh sedikit harapan pada Obama, maka harapan itu kini mulai sirna. Barack Obama ternyata tak beda dengan Presiden AS lainnya yang menempatkan Israel sebagai sekutu utamanya. Kita tunggu saja, apakah setelah ia resmi memangku jabatan Presiden AS nantinya, akan ada perubahan sikap. Kita pesimis, jika melihat sikapnya selama ini terhadap Israel. Dalam berbagai propaganda Israel mengatakan bahwa mereka melakukan kebiadaban tersebut adalah dalam rangka untuk membela diri dari serangan-serangan roket Hamas. Propaganda ini adalah sangat keterlaluan kebohongannya. Kaum Zionis dan juga AS tidak mau melihat akar masalah Pelestina itu sendiri. Palestina adalah negara yang dijajah; tanah air mereka dirampas oleh kaum Yahudi dengan dukungan Barat, khususnya Inggris dan AS. Kita perlu ingat kembali, bahwa hingga kini ada sekitar 4 juta pengungsi Palestina yang terusir dari negaranya. Masih ada yang sejak tahun 1949 mereka hidup di tenda-tenda pengungsi yang tersebar di wilayah Lebanon dan sebagainya. Mereka tidak jelas nasibnya hingga kini, apakah akan diizinkan kembali ke tanah airnya atau tidak. Hak untuk kembali (Right to Return) senantiasa ditolak Israel. Padahal, bangsa Palestina adalah korban dari kebiadaban kaum Kristen di Barat terhadap yahudi. Mereka tidak pernah membantai kaum Yahudi. Baratlah yang selama ratusan tahun membantai Yahudi. Bahkan, selama 800 tahun kaum Muslim di Andalusia menjadi pelindung kaum Yahudi. Begitu juga Turki Utsmani. Ketika pada tahun 1492 kaum Yahudi diultimatum oleh penguasa Kristen di Spanyol untuk pindah agama, dihukum mati, atau diusir dari Spanyol, maka ratusan ribu kaum Yahudi memilih untuk pergi dari Spanyol. Kemana mereka pergi? Tak lain mereka mengungsi ke wilayah-wilayah Turki Utsmani. Meskipun memberikan gambaran yang tidak terlalu tepat terhadap perkembangan Islam, Encyclopedia Judaica masih mengakui bahwa sikap muslim terhadap Yahudi jauh lebih toleran dibandingkan sikap Kristen. Kata Encyclopedia ini: ”it displayed greater tolerance than Christianity.” Setelah mengalami berbagai kekejaman di Eropa, kaum Yahudi di wilayah Utsmani merasakan hidup di tanah air mereka sendiri. Selama ratusan tahun mereka tinggal di sana, menikmati kebebasan beragama, dan berbagai perlindungan sebagai kaum minoritas dengan status sebagai ahlu zhimmah. Selama itu, kaum Yahudi tidak berpikir untuk memisahkan diri dari Utsmani. Karen Armstrong, dalam bukunya, A History of Jerusalem mencatat, bahwa di masa pemerintahan Sultan Sulaiman Agung (Suleiman the Magnificent--1520-1566), Yahudi hidup berdampingan dengan kaum muslim di Jerusalem. Sejumlah pengunjung Yahudi dari Eropa sangat tercengang dengan kebebasan yang dinikmati kaum Yahudi di Palestina. Pada tahun 1535, David dei Rossi, seorang Yahudi Italia, mencatat bahwa di wilayah Utsmani, kaum Yahudi bahkan memegang posisi-posisi di pemerintahan, sesuatu yang mustahil terjadi di Eropa. Ia mencatat, “Here we are not in exile, as in our own country. ‘Kami di sini bukanlah hidup di buangan, tetapi layaknya di negeri kami sendiri.’” Kondisi Yahudi di Turki Utsmani itu begitu bertolak belakang dengan perlakuan yang diterima Yahudi di dataran Eropa, sehingga mereka harus mengungsi besar-besaran ke luar Eropa, dan terutama ke wilayah Utsmani. Padahal, ketika Spanyol berada di bawah pemerintahan Islam, kaum Yahudi juga mengalami perlakuan yang sangat baik. Sejumlah penulis Yahudi menggambarkan kondisi Yahudi di Spanyol di bawah pemerintahan Islam ketika itu sebagai suatu “zaman keemasan Yahudi di Spanyol” (Jewish golden age in Spain). Dalam buku Atlas of Jewish Civilization, Martin Gilbert mencatat tentang kebijakan penguasa muslim Spanyol terhadap Yahudi. Dia katakan, bahwa para penguasa muslim itu juga mempekerjakan sarjana-sarjana Yahudi sebagai aktivitas kecintaan mereka terhadap sains dan penyebaran ilmu pengetahuan. Maka mulailah zaman keemasan Yahudi di Spanyol; penyair, dokter, dan sarjana memadukan pengetahuan sekuler dan agama dalam metode yang belum pernah dicapai sebelumnya. Kaum Yahudi itu bahkan menduduki jabatan tertinggi di dunia muslim, termasuk perdana menteri beberapa khalifah di wilayah Islam bagian Timur dan Barat. Karen Armstrong juga menggambarkan harmonisnya hubungan antara muslim dengan Yahudi di Spanyol dan Palestina. Menurut Armstrong, di bawah Islam, kaum Yahudi menikmati zaman keemasan di al-Andalus. Musnahnya Yahudi Spanyol telah menimbulkan penyesalan seluruh dunia dan dipandang sebagai bencana terbesar yang menimpa Israel sejak kehancuran (Solomon) Temple. Abad ke-15 juga telah menyaksikan meningkatnya persekusi anti-Semitik di Eropa, yang kaum Yahudi dideportasi dari berbagai kota. Sebagaimana Karen Armstrong, Avigdor Levy, penulis Yahudi dari Brandeis University, mencatat tentang kisah tragis pengusiran Yahudi dari Spanyol tahun 1492. Itulah kebaikan dan perlindungan umat Islam terhadap Yahudi. Tapi, setelah melihat kekuatan Islam melemah, kaum Zionis kemudian justru berpaling ke Barat. Mereka justru tega merampas negeri Palestina untuk berdirinya Negara Yahudi. Anehnya, klaim-klaim teologis dan historis mereka kemudian didukung oleh Inggris dan AS. Peristiwa holocaust yang sebenarnya bukan tindakan kaum Palestina justru dijadikan legitimasi untuk membunuh dan mengusir penduduk Palestina dan menggantinya dengan penduduk Yahudi. Karena itu, tidaklah berlebihan jika dunia menilai, Zionisme sebagai satu bentuk rasisme. Resolusi Majlis Umum PBB No 3379, tahun 1975 menyatakan, bahwa "Zionisme adalah sebentuk rasisme dan diskriminasi rasial." Roeslan Abdulgani (Menlu RI periode 24 Maret 1956--28 Januari 1957) menulis bahwa salah satu jiwa pokok dari Konferensi Asia-Afrika Bandung, tahun 1955, adalah jiwa anti-Zionisme. Dalam konferensi tersebut Zionisme Israel oleh banyak delegasi dikatakan sebagai, "the last chapter in the book of old colonialism, and the one of the blackest and darkest chapter in human history ‘bab terakhir dari buku kolonialisme kuno, dan satu di antara bab yang paling hitam dan paling gelap dalam sejarah manusia.’” Zionisme Israel, menurut Roeslan Abdulgani, pada hakikatnya adalah bentuk dan manifestasi dari nafsu untuk merampas tanah air bangsa lain, dengan cara-cara teroris dan kejam. Negara Israel yang didirikan pada tahun 1948, tidak hanya merampas tanah air rakyat Palestina yang tak berdosa, tetapi juga mengusir penduduk aslinya dengan teror dan kekerasan. Selanjutnya Roeslan menulis: "Zionisme boleh dikatakan sebagai kolonialisme yang paling jahat dalam zaman modern sekarang ini. Ia berbau rasialisme. Ia menyalahi agama Yahudi. Ia didukung oleh kekuatan-kekuatan internasional yang berjiwa reaksioner, baik dari kalangan Yahudi di Eropa Barat maupun di Amerika." (Roeslan Abdulgani, Indonesia Menatap Masa Depan, (Jakarta: Pustaka Merdeka, 1987), Jadi, kekejaman dan kebiadaban Zionis Yahudi memang sudah masyhur dan dimaklumi oleh dunia internasional. Mayoritas negara-negara di dunia mengutuk tindakan Israel. Tapi, AS tetap mendukung kebiadaban Israel. Di sinilah kita melihat praktik nyata kebohongan Demokrasi yang digembar-gemborkan AS dan sekutu-sekutunya. Dalam struktur PBB sendiri dilestarikan sistem yang sangat otoriter dan sangat tidak demokratis. Kekuasaan PBB untuk melakukan aksi militer diberikan kepada Dewan Kemanan; sedangkan Dewan Keamanan sendiri sudah dikuasai oleh lima anggota tetap. Jika satu saja anggota tetap itu tidak setuju dengan satu resolusi, maka resolusi itu batal. Akhirnya, yang berkuasa bukanlah suara mayoritas, tetapi AS dan sekutu-sekutunya. Inilah satu bentuk kebohongan demokrasi yang sangat telanjang. Anehnya, begitu banyak pakar saat ini yang masih rajin menyanyikan lagu demokrasi dan membanggakan Indonesia sebagai negara demokrasi terbesar di dunia Islam. Satu kebanggaan yang berlebihan. Tapi, kita memang tidak akan menyelesaikan masalah dengan mengumpat dan mencaci Israel dan para pendukungnya. Kita sendiri yang harus berubah. Sebab, kita kalah bukan karena pihak luar. Kita kalah karena kita sendiri. Karena kondisi kita memang layak untuk dikalahkan. Untuk mencari jawaban bagaimana supaya kita bisa menang, maka kata Yusuf Qaradhawi, kita memang harus kembali kepada Islam. Tahun 2003 lalu, saat pembukaan KTT Organisasi Islam di Kuala Lumpur (16/10/2003), Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohammad kala itu juga sudah mengingatkan bahaya kekuasaan Yahudi di dunia. Mahathir mengajak umat Islam untuk melihat sejarah, bagaimana bangsa kecil yang ditindas dimana-mana selama ribuan tahun itu kini bisa menguasai dunia. Dalam pidatonya tersebut, Mahathir Mohammad sebenarnya lebih menekankan, agar umat Islam belajar dari sejarah Yahudi. Bagaimana bangsa kecil yang mengalami penindasan selama ribuan tahun ini, berhasil survive (selamat) dan bahkan kemudian menjadi salah satu kekuatan dunia (world power). Ia menekankan, bahwa Yahudi selamat, lebih karena menggunakan “otak”, dan bukan hanya kekuatan fisik. “Muslims were up against people who think; people who survived 2000 years of pogroms not by hitting back, but by thinking.” Yahudi, menurut Mahathir, mampu keluar dari keterpurukannya karena mereka menggunakan akalnya. Tapi, kita paham, bahwa akal saja tidaklah cukup. Yang penting juga adalah aqidah dan akhlak. Islam akan mampu meraih kemenangan jika mampu memadukan dua unsure yang tepat dalam perjuangan, yaitu kecerdasan dan keikhlasan. Betapapun hebatnya akal yang kita punya, betapa pun jitunya strategi yang kita terapkan, jika tidak dilakukan dengan keikhlasan, maka kemenangan pun tidak akan kunjung tiba. Keikhlasan dalam berjuang inilah yang memungkinkan kita mampu membuang jauh-jauh semangat ashabiyah dan golonganisme di tengah kita. Mudah-mudahan aktivitas kita dalam berjuang membantu saudara-saudara kita di Palestina kita jalankan karena mencari keridhaan Allah; bukan untuk mencari pujian masyarakat bahwa organisasi kita termasuk yang paling aktif dalam perjuangan ini. Niat ikhlas itulah yang dinilai oleh Allah. [Solo, 2 Januari 2009/www.hidayatullah.com] Catatan akhir pekan [CAP] adalah hasil kerjasama antara Radio Dakta 107 FM dan www.hidayatullah.com
Zionis belum berhenti membantai, kok kita berhenti membantu? Sisihkan sebagian harta Anda untuk membantu rakyat Gaza di "Hidayatullah.com Peduli Palestina". No Rek BCA: 822 0279422 CP Redaksi www.hidayatullah.com 081-357342242 |